Thursday, 14 July 2011

PURI KENCANA - sambungan (i)

Kini dia munda mandir di depan Puri Kencana. Beberapa orang kanak-kanak mengunjukkan arca-arca berukir serta serunai kayu aben. Dicubanya satu dua batang serunai, tetapi tidak menimbulkan bunyi yang disenangi. Dia memulangkan batang serunai dan terus menyusur beberapa s3elokan di celah-celah lorong depan hotel, sehinggalah matabya jtau ke atas huruf-huruf yang timbul di atas pintu gerbang. Puri Kencana. Puri Kencana ! Wajah Kalamukara terpambang gagah dengan sepuluh jari yang mengembang di puncak gerbang. Satu ajakan menarik. Akan melangkahkah aku ke dalam? Atau memangkah muncul wajah peribadinya di situ seperti dia berlari santai dan bebas di tanah airnya yang juga mempunyaiu wilayah yang sama namanya seperti puri di depannya. Puri Kencana? Kanchanabhuri? Mana yang asli? Apakah telah ditakdirkan, aku seorang Ianau lahir di bumui utara dan dia, Nyi Ratna Suwarni lahir di bumi selatan? Nama puri itulah mengusiknya untuk berani menerobos lansung ke dalam ! Di kiri kanan gerbang , rimbun dengan bunga-bunga kemboja kuning dan merah jambu. Bau yang menyengat tetapi membawa makna agung dan pasrah .

Dia telah menaiki anak tangga pertama. Tembok yang memisah bahagian luar membuatkan puri itu diam sediamnya seakan tiada siapa di dalamnya. Tetapi setelah melangkah ke dalam, muncul cahaya dan sekelompok anak-anakj muda berkumpul . Terdengar tiupan seruling . Pasti ada latihan ataupun persembahan tarian di situ. Dia menebak sendiri atau lebih tepat dengan dengan penuh harap. selangkah memasuki bahagian dalam puri kelihatan rimbun seroja di permukaan kolam di pinggir kanan jalan masuk. Sebelum memasuki ruang balai besar, dia harus ke balai besar, untuk turut bergabung di celah-celah pemain gemelan . Mereka mengerumuni seorang lelaki tua, mungkin dia ketua banjar, mungkin ketua adat di puri . Di sisian kolam ada beberpa jejeran meru bertingkat. Kelihatan sebakul sajen masih baru dan kalau dia rajin bertanyakan sesuatu kepada peletak sajen senja.

" Hei, kau, kukira kau tidak akan datang menemuiku di sini !"

" Telinganyakah yang mencipta mimpi. Atau matanya merekacipta bayangan maut, bila tiba-tiba yang muncul di depannya adalah dia. Dia yang mengusik sejak dihari pertama adalah dia. Dia yang mengusik sejak di hari pertma dulu.

" Kau?"

" Sejak hari itu , aku menunggu , kalau kaui sudi mampir ke pondokku "

Ya Tuhan, tiba-tiba dia menampar telinganya. Bukankah si penari itu, Nyai Ratna Suwarni telah memberi tahu di mana rumahnya.

Puri Kencana. Puri Kencana!

" Hah, kau temui Kancanabhuri !"

" Ha?"

" Ayuh, masuklah ke dalamn. Di sana semuanya saudara- maraku , kami ada pesta s'lametan nanti malam "

Dalam perjalanan akhir, tidak ingin dia memikirkan detik selanjutnya. Telah ditemuinya Nyi Ratna Suwarni. Apa pula alasannya untuk menemui penari itu. Perlukah dia mengadakan nama puri itu lebih memanggilnya untuk mampir atau oleh semangat dalaman diri yang menyahut panggilan bati Nyti Ratna Suwarni sendiri? Cuma beberapa waktu berlansung, suaranya lepas tanpa diatur,

" Aku perlukan alamatmu yang tepat, muat mengirimi foto-fotomu ketika menari tempoh hari!"

" Terima kasih ". Tetapi dalam benak penari itu, ah, itu hanya baca-basi tamu asing. Pesan ibunya mengembang setiap kali dia diajak bicara atau bercanda terutama dengan para jurufoto atau wartawan, apalagi kalau yang berwajah putih cerah. Dan Inau Suvharna yang menggenggam erat jemarinya di hari perasmian setelah dia mengalungkan kemboja bukankah berwajah putih kemerah-merahan. Sekilas, hatinya berdetak juga dengan senyum dan suara mantap lelaki itu. Tetapi syukur sebagai penari dia bebas melempiaskan naluri asli berdasarkan gerak-gerak , seolah dia hanya membawa watak Galuh atau Panji dalam tarian Arjuna.


Inau Suvharna. Inau Suvharna. Nama itu telah dipindahkankanya ke pengethuan ibunya di puri. Ibu agak gugup dengan nama yang baru didengarnya. Tamu dari Muangthai? Itu soalan ibu selanjutnya. Dia hanya mengangguk. Tidak pula melanjutkan cerita, walaupun ibu bagai ingin mengetahui lagi tetapi nyatanya ibu seakan mengelak dan berakhir ke bicara lain. Mengingatkan upacara s'lametan bulan penuh. Tetapi jauh di sukma Nyi Sukasih, ada gelora lain yang menyentak. Oh ! Tuhan pasti kau tidak membawa deritaku lagi. Phra Ram telah jauh. Lelaki itu telah pergi. Jangan kau bawa mimpi hitam itu lagi. Nyi Ratna Suwarni harus bersih. Telah beberapa kali dibisiknya kepada puteri tunggalnya itu, ingatan dunia plastik. Pulau Dewata kini telah berwajah luka. Dewa-dewa telah murka. Mereka datang hanya memainkan doa . Tuhan telah jauh di hati mereka.

1 comment:

mafiaseks said...

Film Bokep, Film Dewasa, Film Porno, Film Semi, Film Semi Indo, Film Semi Jepang, Nonton Film Bokep, Bokep Online, Download Bokep Online, Bokep HD, Abg Lesbian, Memek Abg, Tante Kesepian, Bokep Terbaru, http://www.layarfilmsemi.com/category/film-bokep/