Monday, 26 December 2011

CAHAYAMU (NH 1432/1433)

@SZI Masjidil Haram Nov 2011

Bismillahirrahmanirrahim,
" Allah mempunyai cahaya langit dan bumi. Perumpamaan  cahaya Allah (Agama Islam)  itu sebagai sebuah lubang, yang di dalam pelita. Pelita itu di dalam kaca. Kaca itu bagai bintang yang berkilauan...cahaya berlapis cahaya . Allah memimpin siapa yang disukaiNya menerima cahaya membuat beberapa perumpamaan untuk manusia dan Allah itu Maha mengetahui segala sesuatu " (Surah 24, An Nur: 35)
"(Cahaya itu) di dalam rumah (masjid) yang di situ Allah itu  mengizinkan supaya dimuliakan dan disebutNya, tempat tasbih memuji Allah pagi dan senja " (:36)

BUKANKAH  Cahaya ini yang memanggilmu ya insan kecil . Kaupun melangkah setelah ucapan  'Dengan Nama Allah Yang Pemurah lagi Maha Penyayang'. Kau tinggalkan sandal dalam kantung plastik, di celah tiang pintu no 88, kadang masuk dari pintu King Aziz, Al Fadh, menuju ruang perempuan. Kadang lansung ke tangga tingkat dua atau lurus menuju ke aras paling atas, terbuka menengadah ke langitMu. Ya Rabb. 
Dan subuh ini, di sebelah tiang agam perkasa, aku selepas menghampar sejadah, melepaskan sujud akhir solat sunat masjid, sunat subuh...menunggu azan pertama, ku tengadah ke atas. MasyaAlalh cahaya yang tergantung dalam kaca menyerbak kilauan berganda. Sejak dulu minyak kayu dan minyak zaitun memberi nyala api, menyimbah dari tutup cerobong kaca pelita..kini kau tergantug, agam bertahtah di bawa jejeran kubah berlapis...Cahaya demi cahaya, kami menginsafi tiada Cahaya lain selain Cahaya Mu Ya Syarif. Izinkan aku bersama insanMu yang lain, seperti juga yang berada di langit , di bumi, di lautan semua hamba CiptaanMu,  " burung-burung  yang mengembangkan sayapnya masing- masing  mengetahui (cara) berdoa dan memuji. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan" (: 41)

Cahaya dari LampuMU berkilauan tanpa menyakitkan. Cahaya itu berbinar menumpah kebenaran dan kemudahan ketika kami melangkah ke dalam, ke  luar   RumahMu setiap jiwa tergetar dan tidak lagi berahsia menerbit air mata. Mereka berebut menuju Pintu, memilih  ruang tepat ke arahMu, Ya Kaabah Yang Satu.Setelah gelap malam Kau sinari bintang dan bulan, Kau cerahi dengan Bintang Kebesaran Matahari, manusia, haiwan unggas bertaburan mencari rezeki. Rezeki  Halal pemberian Mu. Ya dalam CahayaMu, jadikanlah kami yang berada dalam RumahMu mereka yang beriman kepadaMu kepada Rasul pilihanMu dan Dikaulah tempat kami Meminta segala Cinta AgungMu tanpa berbelah bagi. Di bawah cahaya Keimananan ini, bercerangcanglah doa taubat tidak kunjung selesai sehingga matahari Dhuha pun melambai ..Allahuakbar

(Mengenang Subuh Masjidil Haram
Nov-Dis 2011)

Thursday, 22 December 2011

Pintu RumahMu (NH 1432/1433)

@SZI 2011
(28 Oktober 2011)

ALHAMDULILLAH Pintu Rumah Mu terbuka selalu. Aku datang lagi kerana Seruan itu tiba. Betapa banyak pintu, pintu ini juga kami tuju. Tiba musimnya (Haji) seluruh umat dunia datang bagai angin  menderu . " Timur dan Barat  kepunyaanMu Ya Allah, kemana saja kau menghadapkan mukamu di situlah wajah Allah (qiblat) sesungguhnya Allah itu Pemberi kurnia yan cukup dan Maha Tahu " (Surah 2, Al Baqarah: 115). Menara perkasa azan melantun dan kami tergesa ke pintuMu Yang Satu!  

Tidak sekali kupalsukan Rindu mencariMu, tidak menghindari Pintu di bawah langit dan di bumi indah Milik dan CiptaanMu. Apakah ertinya perjalanan ini, kalau bukan oleh restuMu, oleh sejuta keajaiban yang tidak mampu dijawab oleh akal sehat kecuali batin yang redha, Kaulah Yang memberi nikmat kami. Aku antara berjuta HambaMu dengan rendah hati  mendengar ' berita gembira' menjejak tapak Ibrahim  mengeliling Rumah Tua Sejak Muhamad menjadikan Rumah Tercinta ini sebagai perawat nurani   -  'thawwaf  berkeliling Rumah Suci - bersihkan hati kami. Di pintuMu aku melangkah, Ya Rabb, terimalah rindu entah untuk berapa kali tidak henti, aku  hanya sezarah debu hitam kelabu...terimalah...Bismillahirahmanirahim..

Monday, 24 October 2011

Detik Itu Pun Tiba

Sahabatku : Tiba waktu, kapalpun  membawa diri  seperti buraq dinihari - daku membawa helaian sayap amat tipis berlarik luka. Hanya kesedaran Iman, harus kita jabat erti perpisahan maafkanku  terlalu banyak mencatat melakar, mana yang terhiris hati, tersangkut tanya dan terluka...maaf kupinta. Izinkan daku  melangkah, merentas dengan tenang, tersandung  perit cinta memberi hari semakin nyata. Jelas Hanya Dia Yang Amat Lembut mendengar bisikan HambaNya.Doakan kasih batini sehingga diri semakin insaf segala dosa segala keingkaran, segala tipisnya kesedaran, demi kasihku berilah titis  ilmu pengetahuan, dengan jernih mata dan hati ,  tidak Kau pesongkan hati demi HidayatMu. Berilah Petunjuk, ada Cahaya, Cahaya KasihMu , aku tahu Dikaulah Yang Memberi Kurnia. Hanya Mu Yang Memberi Kesejahteran.Terimalah senyuman kasihku kepada sahabat terkasihku, tak mungkin kulayang ucapan maaf secara utuh, hanya di sini, tali kasih antara kira, dikau sahabatku, maafkan hati kecil ini, sungguh Redha  meninggalkan seluruh hak pinjamanMu, dari hutan, laut, langit dan Awan yang Kau pinjamkan kuserahkan  kepada Yang Hak! Demi Yang Terpuji, Redhakan aku pergi...dan izin kembali menatap mentari tanah air  ini. Al Fateha, Ayah , Ibu, Nenda, para guru dan   kedua anankanda ,   saudara mara dan sahabattku, kutabur doa kasih ampunilah Kami ya   Amin Ya Rabillalamin...

Menjelang 27 Okt 2011
KT 80. 

Saturday, 8 October 2011

Sekolam kiambang

Terima kasih Isnadi menebar benih kiambang ini - Laman Nyang Galoh Okt 2011
Benarlah kehidupan hari ini adalah sisa masa lalu. Ketika merenung sisa kolam ini, yang kerap ditinggalkan oleh si  penghuni taman, kadang kering di musim panas tanpa hujan, kembali menghijau berkelopak kiambang ketika hujan berderaian. Lumut pun berkilauan.  Apakah yang akan kau catat sahabatku?  'Biduk lalu kiambang bertaut' - betapa arifnya nenek moyang  mencipta larik puisi klasik ini. Larik dari batin indah terluah bersahaja, sehingga kerap pula di dendang selokakan.

Ketika akan pergi meninggalkan taman ini, lebih sebulan nanti siapakah yang sudi mengintai kolam ini? Yang akan mengocakkan permukaannya sehingga berudu bersilat ekor sebelum memamahnya sendiri untuk menukar wajahnya yang lebih asli? 

Siapakah yang datang menyiram keladi, pelepah rimbun sepit udang dan menghidupkan unggun api menghalau  nyamuk ? Adakah kelak  sahabatku si  Tiga Pendekar datang menjenguk???

Menuggu detik keberangkatan. 
Gombak
9 Okt 2011, 00:24   

Thursday, 6 October 2011

Jaga dirimu Jingga

                                                                    
Jaga dirimu Jingga
Ketika kau
segak perkasa
menjaga Adik manja
tak kau beri
Si Belang datang
menghampiri.

Petaka tiba
kau bersayu hati
diam di sarang
tanpa suara
jemarimu adalah
saksi
dunia berhenti
seketika
kau renung
kembalikan
kau seperti biasa
berlari meriuh siling
ikhsan
menjaga pagi
sebelum malam
memberimu
bisikan
jangan bersedih
sahabat kita
Jingga !

6 Oktober 2011 

Friday, 30 September 2011

7. 150 Tahun Kampung Kami

1.

150 tahun usia kampung kami?

Kau terkejut? Tidak percaya, lebih tua usianya dari kota raya - ibu negara? Ha?  Kenapa mendelik. Kota raya bersimbah cahaya. Aku tafakur sendiri di bawah tiang lampu, Pasar Budaya- bekas Pasar Besar di ibu kota sedang nongkrong bersimpun  di galeri Ghani Ahmad, dikeliling siswi UPSI. Inilah contoh galeri  yang  sudah dipindahkan di kawasan luar Pasar Seni. Pelukis makin terpinggir di ruang Pasar Seni yang semakin hebat .  Kadang disebut Pasar Budaya yang tidak mampu menyewa galeri mewah di mall di pusat hebat kerana menjual anika barang seni bukan lagi  100 peratus milik tempatan. Mana Pasar Seni yang digahkan 35 tahun lalu. Bila ruang melukis di Jalan Melayu, di Jalan Bonos, di Jalan Ampang, malah yang di anjur Kementerian Kebudayaan, di Jalan Belandapun sudah dilupuskan. Suara mentgeri suara Datuk Bandar bergema " Kita akan bangunkan Pasar Seni akan menempatkan studio pelukis... " tetapi selepas 20 tahun...ruang pelukis semakin kecil, malah  sewa semakin meningkat. Peraturan yang sengaja melecehkan ' pelukis pinggiran'. Itulah istilah si lintah darat pengusaha kota raya, mereka golongan pedagang mewah. Terakhir Aris Aziz juga harus keluar. Kembali menjadi pelukis berpindah randah...ya Rabbi. Pernah Balai Seni Lukis Negara mengadakan acara hujung minggu, pasar seni di halamannya. tiba-tiba diberhentikan. Diadakan pula Lebuh Seni di dataran Merdeka.  Berbondong seni di hujung minggu. Taraf seni rakyat bagai pesta arak berarak , masuk kandang keluar kandang. Mana Pasar Seni yang utuh sebenarnya. Tanpa pelukis mengheret papan lukis ke hulu ke hilir. Ayuh bangun semula Pasar Besar Gombak menjadi Pasar Seni!!!

 
Kudengar debat dua orang anak muda, bila kubercerita tentang asal usul wilayah  Gombak yang meliputi Kg Puah di Batu 3  3/4 hingga ke Batu 12. Dan  kampung kami  di Batu 4 1/4 Jalan Gombak bersungguh mempertahan kampung halamananya setelah DBKL mula mengatur dan menjalurkan kampung-kampung di pinggir kota untuk dibangun pada tahun 2020. Sepuluh tahun lagi, sembilan tahun lagi. Akukah si penutur tentang asal usul kampung yang bermula dengan peristiwa Raja Rasul singgah  di Labuhan Batu, batu hampar yang menjulur di dua lidah bercabang , Sungai Gombak dan Sungai Ampang bersatu dengan Sungai Kelang. di situlah kemudiannya muncul Masjid Jamik, bersebelahan pinggiran Pasar Seni sekarang. di Labuhan Batu inilah rombongan dari Labuhan Dagang- Kelang, menghulu membuka kampung di Ulu Sungai Ampang dan di Ulu Sungai Batu, Sungai Ulu Gombak. Jangan tanya Yap Ah loy rombongan mereka belum sampai lagi. Catatan sejarah harus diluruskan,  siapa yang membuka kota Kuala Lumpur. Kota yang penuh lumpur datang dari hulu sisa banjir dari  tiga batang  sungai utama,Sungai Gombak, Sungai  Ampang dan Sungai Batu. Kau tahu di mana letaknya Kampung Batu, Bukit Batu  sebelum munculnya  Batu Road? Gua Batu yang kau sebut Batu Gave?  Ikut mitos datuk saudara kami A.Samad Ahmad, mengatakan,  itulah sisa jelmaan Nakhoda Tanggang yang  menderhaka dan kapalnya menjadi batu setelah disumpah oleh ibunda masa lalu. 

****
2...bersambung. 

Thursday, 29 September 2011

KUTIPAN UNTUK KULIT BUKU BHG. BELAKANG

Latfy dan kawan-kawan, grafik:
bahagian belakang buku Rumah Waris Uwan ...

' Kampung asal berpaya ini kini disebut Kampung Bandar Dalam bersebelahan dengan Kampung Padang Balang. Perkataan Bandar berasal dari dialek Minang- Negeri Sembilan, Bonda atau Banda bererti tali air. Iaitu oleh peristiwa banjir besar 1928 di Sungai Gombak, penuhlah tali air menjadi 'banda yang dalam' maka bernamalah kampung ini Kampung  Bandar Dalam.  Inilah Bonda  ibu tanah air yang perlu dilindungi,dikasihi  khususnya buat warga Kampung Bandar Dalam serta para generasi muda pewaris seni budaya Bangsa' (dalam  Kasih Bonda kampung Paya Kami, DBP, 2009)  

*****
' Important too is her oral-aural quality. Siti Zainons's works are composed for the ear, and it is when  they are spoken and heard that their  distinctive are highlighted. The oral-aural quality relates were works to traditional literature - its folkloristic traditions. especially, which view poems a stories as part of performance as an oral art, memorised and dramatised at sosial or other ocassions'
 ( SN Prof. Dr Muhammad Haji Salleh dalam Malaysian Writers Siti Zainon Ismail, DBP, 1989). 

*****
 '...Siti  Zainon berguru mengikut tatacara konsep belajar dengan masyarakat Melayu di zaman dahulu. Perguruannya membawa dirinya menjelajah , berkelana, mengembara menyelidik khazanah  purba pusaka zaman silam. Dari desa kecil di tempat terpencil, dari tanah besar ke pulau-pulau Nusantara, dari negeri ke negara sehingga ke kota-kota besar dan kecil di Asia Tenggara, Eropah di mana sahaja ada jejak-jejak silam  seni seniman Melayu ..sekarang Siti kembali menjejak kampung kelahirannya, Gombak ' 
( Prof. Madya Dr Mahzan Musa dalam  Zikir Pelangi, The Rainbow Siti Zainon Ismail, 2000 : 19) 

KBD, 30 Sept 2011


Friday, 23 September 2011

DENGAN WARNA ALAM YANG BERSIH


'...Melukis itu kerja remeh, main-main, dan eeehh, anak aku juga boleh melukis seperti itu ...!!!'

Pernah anda mendengar ocehan remeh begini.  Suara lain bersambut, ' boleh ke hidup dengan melukis' .

Inilah nada momokan yang harus dilalui oleh pelukis yang baru melangkah ke dunia seni lukis yang luas ini. Sehingga tahun 1950an memang belum ada pun sekolah seni lukis apa lagi pusat pengajian tinggi yang menawar kursus aneh ini.  Menjelang tarikh kemerdekaan  YTM Tunku Abdul Rahman telah menaungi Badan Kebudayaan Melayu dan selepas itu berdirilah Angkatan Penulis Semenanjung (1956). Sebuah galeri sudah berdiri di bawah kuasa pemerintah dengan nama Balai Seni Lukis Negara. Pemerintah Inggeris pula telah mengeluar biasiswa menghantar murid pintar untuk mengikuti berbagai kursus termasuk kursus seni bina. Di sinilah mula dicatat, pemuda Melayu Syed Ahmad Jamal yang bermula mengikuti kusrus seni bina tetapi akhirnya muncul sebagai graduan seni lukis dan menjalar catatan, ' pelukis muda baru pulang ke tanah air, dengan sejumlah lukisan yang aneh: garis-garis lincah impresioniosme'. 

Di tanah ketika itu berkembang seni lukis realisme-romantis  potret dipelp[pori oleh Hussein Enaz  ( tahun 1950an Angkatan Pelukis Semenanjung ), lukisan cat air, pemandangan oleh Abdullah Arif dan Young Mun Sejak  (tahun 1930an) di Pulau Pinang. Beberapa orang daripada mereka adalah pelukis semula jadi serta berpengalaman dari tanah asal masing-masing. Tetapi melalui sistem pendidikan seni Barat, Syed Ahmad Jamal, Ibrahim Hussein dan Latif Mohidin, memang terpilih untuk belajar  di Eropah. 

Di sinilah jejak pertama Syed Ahmad Jamal. Sejak awal kerja melukisnya bermula dengan rasa yang jernih. "  Ruang kerja, susunan berus, campuran warna harus bersih."  Inilah pesannya ketika kami bersama santai di ruang terbuka di Balai Seni Lukis Negara di bangunan lama di depan Stesen Keretapi Kuala Lumpur. Ketika pameran solo sempena usia 70 tahun di Muzium Kesenian Islam, warna cerah gemilang tetapi dengan sapuan dan campuran warna yang bersih semakin 'ranggi'. Percikan bintang bertaburan dengan latar sapuan berus lebih lapang tetapi meninggalkan kesan bergelombang, warna ungu langit seperti lapisan pelangi, jingga biru hijau menyatu. Warna muda yang segar.

Sejak menjelang tarikh kemerdekaan, kesan kepada nada merdeka telah  ke akar. Itu juga pesannya. Walau sekali imbas kita tahu beliau membawa aliran impres-ekspresionisme Barat. Tetapi itu hanya gaya. Jelasnya lagi...' sepanjang belayar, pulang ke tanah air, ketika kapal memasuki Selat Melaka,  ohhh saya sudah tiba ke tanah air tercinta'. Suara itulah saya puisikan dan membacakannya di hari pelancaran pameran itu. Rimbunan Rumbia, melepas pucuk-pucuk tinggi, menuju  ke langit...itulah semangat juang sebagai nada kebebasan. Unsur alam itu sudah lama bergelora.  Beliau melihat akar dan sulu noipah, laut brgelora yang muncul ialah semangat bergeloran anak muda menjelang memnuambut detik kebebasan.
Kebebasan dan nada juang itu terpanjar denga aris lincah, spontan, palitan berus kasa, saling bertindih mempamerkan kalimah  abjad jawi moden, dalam judul ' Tulisan' (cat minyak  1962). Hal yang sam juda dilakukan oleh latif Mohidin dalam siri ' Pago-pago'. 

Bagi Syed Ahmad Jamal , kesan perjuangan semangat menjeIang  kemerdekan  makin kukuh setelah bergemanya, Konsep Kebudayaan Kebangsaan (1972), bagi mencari akar pribumi (Seminar akar-akar Pribumi, 1979). 

" Siri Ledang" 
Sejak tahun 1979, Beliau tidak berpaling lagi. Pemikiran Melayu digali dari teks Sastera Klasik. Ikon Ledang mula meruap.  Beliau juga menemukan ikon budaya tempatan hingga berhasil mengadakan pameran Rupa dan Jiwa (Univerisiti Malaya ).   Karyanya juga tidak terbatas dengan bahan asas Seni Rupa seperti kanvas dengan akrilik tetapi juga melibatkan usaha reka corak  dengan tema Sejarah Melayu dalam kerja tenunan dalam judul ' Jambatan Emas/Jambatan Perak (songket + gouache). 

Semangat Ledang, bukan berdiri sendiri sebagai mitos Sejarah Melayu-Melaka tetapi juga jauh ke belakang telah wujud semangat dunia Melayu Nusantara dengan simbol gunungan 'Mahameru, Tumpal, Pucuk Rebung'. Simbol gunungan juga adalah ikon dengan  motif yang menjati diri sejak kewujudan kesenian warisan: wayang kulit, gerak tarian dan irama muzik Nusantara.

Usaha beliau ini telah membuka wadah kesenian Seni Rupa Malaysia yang wajar menjadi contoh kepada  pelukis muda tanah air.  ...
Semangat Ledang, bukan berdiri sendiri sebagai mitos Sejarah Melayu-Melaka tetapi juga jauh ke belakang telah wujud semangat dunia Melayu Nusantara dengan simbol gunungan 'Mahameru, Tumpal, Pucuk Rebung'. Simbol gunungan juga adalah ikon dengan motif yang menjati diri sejak kewujudan kesenian warisan: wayang kulit, gerak tarian dan irama muzik Nusantara.

Usaha beliau ini telah membuka wadah kesenian Seni Rupa Malaysia yang wajar menjadi contoh kepada pelukis muda tanah air. ...

(sambungan tulisan ini  lihat judul : 2.Manifestasi Dunia Seni > Puisi dan Lukisan, www.senirupasiti.blogspot.com/19/09/2011) 


@SITI ZAINON ISMAIL (Untuk rujukan sila nyatakan sumber @SZI, "Judul" dalam http://www.senirupasiti.blogspot.com,23/ Sept 2011)
Gombak
23 September 2011

Tuesday, 20 September 2011


BAJU MELAYU
Teluk Belanga dan Cekak Musang
sudah diangkat sebagai
busana warisan.
Baju Melayu Teluk Belanga
diperikan dengan dua gaya :
1) samping di luar baju  ' dagang dalam'
2) samping di bawah baju ' dagang luar ' 
3) di jadikan pakaian dalam majlis  rasmi
4) lengkap songkok atau destar

(data untuk akta warisan bahagian Busana, Teksil dan Seni Hias Diri
Kementerian  Kebudayaan dan Warisan)

20 ept 2011

MAMPUKAH
jemari tanganmu
bekerja seperti ini
Jingga???
Dikau diam
seribu bahasa
langkahmu menjengkit
tapi kau tetap perkasa
Maha Pencipta
Segalanya
Rahsia Tercinta!


21 September 2011

Monday, 19 September 2011

2. Manistasi dua Seni> Puisi dan Lukisan



(...sambungan dari judul >  Dengan Warna Alam Yang Besih)

PADA perayaan meraikan ulang tahun beliau yang ke 70 tahun, Muzium Kesenian Islam telah mempamerkan karya agungnya dalam siri Islamis. Judul-judul seperti "Kiblat" dan " Safar dan Marwah" dapat dijadikan rujukan. Betapa batin seninya bergelora hanya dengan meniti Jalan Kebenaran. Secara pribadi beliau sendiri pernah menyatkan bahawa seni lukis adalah bahasa warna dan puisi ialah 'bahasa kata'. Dengan gembira beliau mencadangkan, ' Kenapa tidak Siti puisikan lukisan saya'.  Mungkin agak terlambat saya menyahut cabaran beliau.  Dengan kesedaran kasih seni juga saya harus menjawab cabaran itu. Berikut saya catat puisi yang terlahir dari renungan karya lukisan beliau. Hanya Al Fatehah juga terakam mengenang budi seorang mahaguru seni saya sepanjang berkenalannya dengan beliau sejak  tahun  1972, ketika APS menganjur pameran solo ku di British Council.  Berikut inilah puisi yang terlahir daripada lukisan beliau yang menimbulkan gelora seni puisiku...
"Ruang Kiblat"
 Berpencar-pencar bintangMu
berpinar mencari Yang Satu
 Matahari itulah  KembangMu
sejak Syuruk menjelang Senja
kembali ke dinihari
ke subuh syukur
tiada  duka lara
tiada benci dan resah hati
berlegar berlingkar
kamilah si bunga kapas
terbang melayang
tetap tidak
tidak lagi berwalang
hanya Baitullahilharam
Butiran embun Cinta 
terpendam berzaman bercahaya!

 (Syawal 1432
19 September 2011)

Nurulhaq di depan karya ayahanda

"Tun Mamat Mendaki Himalaya"
 Kau bawa dirimu
Melayu
di puncak itu
matahari yang sama 
di pucuk salju
kau tiba di perabung
kau catat nama
sebuah negara
anugerahNya!

Pribadi kita tinggalkan iri
bendera adalah zikir batini
Tun Mamat
menggenggam pesan Tuah
pergilah anakku
negeri Ledang  di merata dunia
bola negeri di Timur di Barat
panji tanah air
dalam zat 
delima sakti
janji makrifat.

 
Di tapak meru kecil
puncak-puncak bangsa
tak lelah berpencak
Insyaallah
tanah bergunung di Himalaya
Lembahnya di nurani
insani.

(Syawal 1432/Sep 2011)


Ramlan (pengarca) dan Nuruhaq Syed Ahmad Jamal
di depan karya "Safa dan Marwa"

"Safa dan Marwa"

Kau
bawa dirimu
berlari-lari kecil di perbukitan
tanah pasir angin kering
tidak ada kesal dan benci
tanpa dendam
si kecil harus tahu
kau anakku!
Demi Sang Yang Satu
Imam kita jauh di tanah Halil
kita terlempat di gurun sunyi
tidak anakku
temani ibumu
hentakkan kakimu
ibu berlari berlari
demi Rentak CiptaNya!
air terpercik
tak sekali lenyap
di gelimangi Cahaya
Iman UmmahMu!

Kita
si penjaga Rumah
mereka datang berbondong
dengan lurus  tuju
Cinta Yang Satu!
(21 Syawal 1432/Sept 2011)
 
Demikian kesan saya sebagai penyair-pelukis turut bergelora dengan garis dan warna beliau yang merakam  alam yang bersih. Al Fatehah buat Seniman Negara Datuk Syed Ahmad Jamal.  


Tulisan dan gambar hakcipta  Siti Zainon Ismail
galerimelora@yahoo.com
19 Sept- 11 Oktober 2011

Sunday, 11 September 2011

DEWAN KESENIAN RAKYAT MENJADI ISTANA BUDAYA


HASIL Kongres Dasar Kebudayaan Kebangsaaan  (DKK)1972, antaranya ialah menyatukan persembahan kegiatan Kesenian Kebangsaan. Tiga dasar utama yang menjadi patokan  : 1) Unsur-unsur tempatan 2) Unsur luar (dari pendatang) diselaraskan dengan unsur termpatan 3) Nilai Islam bagi mengharmonikan aspek persembahan.

Sekretariat DKK terdiri daripada institusi  sastera (DBP),  IPT, tokoh-tokoh yang terlibat dalam bidang  kepakaran masing-masing dan Kementerian Kebudayaan Belia dan Sukan sebagai sekretariat. DKK dinaungi oleh Perdana Menteri Tun Abdul Razak. Pesan beliau Kesenian dan Kebudayaan : MENJALIN  HATI RAKYAT  . Maka dirancanglah reka bentuk bangunan komplek Kesenian Kebangsaan dengan  mengambil kira peranan  Taman Ismail Marzuki, Jakarta sebagai rujukan fungsi. Pengisian haruslah bernadikan semangat rakyat. Maka impian Usman Awang  (Sasterawan) di sokong oleh Prof Ungku Aziz, Prof M Taib Osman (Ilmuan) , Krishen Jit ( Teater) , Ismail Zain, Syed Jamal   (Pelukis),   Khoo Kay Kim (Sejarawan ) , Azah Aziz (Busana)  , P.Ramli  ( Film-Muzik) dll, bersetuju kegiataan menjurus kepada bentuk Kesenian Rakyat. Maka reka bentuk bangunan (buat sementara disebut komplek)  pun mengambil tema Gasing, bulat padu, dan lincah ligat berpusing, berhenti tepat seimbang, bermain bersama dalam pertandingan..   


Carta Pembahagian bidang kesenian rakyat

TETAPI
TIBA-TIBA
YANG MENJADI
ISTANA BUDAYA

Untuk renungan
DASAR KEBUDAYAAN KEBANGSAAN TERABAI
PUNCA DKK IALAH OLEH PERISTIWA  13 MEI 1969

SASANA  BNM
11 September 2011

Friday, 9 September 2011

MALAM RAYA - SYAWAL 1432


Walaupun belajar masak si bujang ku tetap minta si ibu yang masak rendang. Hei kali ini mereka  berdua sudah meyediakan semua ramuan. Si ibu hanya menumis, memasukkan semua bumbu, bawang merah, halia, lengkuas, bawang putih, kunyit, serai, santan...kacau--kacau..


Kerana si bujang ku memang suka masak, maka penuhlah segala bumbu di dapur. Tetapi untuk masak rendang haaaa, semua barang dalam botol tidak perlu ..si ibu mahu ramuan buat sendiri, dari kupas bawang, menumbuk hasil tangan ya...baru jadi rendang Uwan Gombak.

Selamat Hari Raya, maaf zahir batin

Friday, 29 July 2011

SUARA DARI LERENG BUKIT BESI

Tengahari selepas zuhur kami sudah menaiki ke lereng perbukitan. Diyah menyebutnya, " Nun puncak Bukit Besi'..konon telah ditemui tahi besi, dan pemerintah sudah ingin menggalinya, ya sejak zaman Belanda dululah".Cerita bersambut juga dari bibir seorang Datuk si Ameh di pekan Batu Sangkar, " Kampung gaekmu memang keras, tidak ada yang dapat ditanam, kerana berlereng dengan Bukit Besi" . Tidak ada catatan sempat ku bongkar dalam perjalanan singkat pulang ke kebun leluhur datuk dan moyang kami. Cuaca sudah terik tetapi kerana kami mula mendaki angin berhembus nyaman. Rumah bertutup rapat, kerana para perempuan muda sudah mengaleh ke pasar. Apa yang ku temui? Pohon tinggi menjulang ke awan. Usianya bisa ditebak lebih 90 tahun. Bagaimana dapat kuagak begitu. Ya bila pulang ke rumah Etek Baiyah, ungkapnya, " Sejak ku kecil pohon sudah tumbuh tegak, belum tinggi" . Usia etek sudah menjangkau 80 tahun.
POHON buah keras bercabang dua di puncaknya. ketinggian melebih pohon kelapa. Daunnya menjurali ke bawah, menerawang ke atas. Selama ini kita hanya membeli buah keras ( sigueh putih, chloranthus - kemiri , aleurites moluccacna) . Waktu kecil dulu kami menyebutnya buah ajaib , buah khidmat kerana menjadi penyelamatku, selalu dalam saku. Bila anak anak lelaki nakal (sepupu) ku genggam tangan dalam saku, dia tahu di dalamnya ada buah keras, awas. Sekarang dalam usia petangku ku genggam buah asalnya, yang dikutip Diyah , seperti buah coklat batu sudah lembut kulitnya. Diya meramasnya dan muncullah biji si wajah manis kuning gading.
SIANG itu Diyah mengenalkan ku dengan bau manis si buah keras. Biji buah yang memang keras dan anehnya ia menjadi lembut rasanya dalam masakan. Tidakkan lengkap dalam resepi masakan ninda kami tanpa simanis buah keras. Diyah tersenyum bangga mengenalkan aku dengan buah ajaib ini yang selamanya hanya kutemui di pasar atau di kedai runcit atau di pasar raya yang sudah ditata indah dengan harga berlipat ganda. Serindit tiba-tiba mengejut kami...burung kecil dengan suaranya berdecip di hujung ranting yang menjuntai di sisi kanan langkahku. Wah sunggh jinak pula si unggas kecil ini. Ku gapai ranting dan kukais dahan pakis, serindit melompat menerawang ke atas dan bertenggek di ranting pohon kemiri. Hussh, sungguh dia mengusik kami dengan decipnya yang mendesah.

Di LERENG bukit yang kononnya berbatu besi kebun sayur tidak menjadi, apa lagi sawah padi, sehingga gaek kami harus pergi merantau. Tetapi kuntum lili merah ini dapat muncul segar, kelopaknya tebal bagai trompet menggerakkan sayapnya ditiup angin siang itu. Dengan siapa aku berkongsi warna segar ini. Diyah sudah menurui bukit, aku terkatung sendiri, ingin memetik tangkai si trompet merah . Tetapi naluri ku berkata, ' biarkan aku di sini, menghidu baumu, mendengar debur angin siang menggelisir sinar...aku bersamamu, menanti...'




TIBA-TIBA di dalam jendela melintas bayang seseorang. Jendela berderik, seperti menguatkan ensel dari dalam. Ku tahu ada seseorang mengintai dari dalam. Aku menunggu kalau jendela dibuka. Sedetik, dua detik tidak ada sesiapa yang melangkah keluar. Aku harus berundur...rumah siapakah yang kuhampiri itu? Di kaki bukit Diah menungguku di celah tangga rumah gadang yang sudah sompek dinding, dan patah anak tangga. Kutanya, " Eh rumah siapa yang ada bunga lili merah itu?" . Diyah selamba bersuara..." Mana ada orang , suami berdagang ke Palembang, si isteri mengaleh di pasar..petang baru pulang" ..Haa ??
***


Nota Ranah Minang 2011

Bangi, 30 Julai 2011:0.30




Thursday, 28 July 2011

Segar Alam AnugerahMu

BERABAD silam telah tersirat, Alam terkembang menjadi guru. Alhamdulliah, di ranah Minang ditakdirkan alam pergunungannya Marapi - Singgalang, membawa angin kesuburan. Rinai pagi menitis, beralun tajam ditiup angin dari gunung. Bukankah sudah terpeteri di hati, memaklumi keindahan itu ciptaan Ilahi. Inilah alam dengan kepulan awan berarak, menitiskan embun dan rinai pagi menyubur tanaman. Aie Angek aku tiba di lembah suburmu. Benarlah rangkaian puisi kasih Rumi. ' When one Master meets another, the One meet the One ' (Timothy Freke, 2000:51). Inilah pertemuan yang Satu. Satu Alam menyeru AlamMu! Suburlah alam, berkembanglah daya fikir bergabung daya , sehingga petani tersenyum meramahi alam, semua menjadi hijau, disemai, berbenih, berputik, berdaun, berbunga, berdebunga ...

HASIL tuaian tanaman sudah berpindah. Dijual beli. Cili hijau merah, tomato jingga, terung ungu, menjadi lukisan panca warna - semua asli merakam kasih abadi.
INILAH ghairah air tangan ibu, cili digelek dilumat di batu penggilingan, kau asingkan cili dan tomato merah untuk lukisan merah di piring. Cili dan tomato hijau - lukisan kesegaran sejak dulu sudah bermain di nubari ibunda kita...

PULANGLAH anak rantau di dapur air tangan ibu sudah menyeru!...resepi nenek moyang pedas cili tidak memudharat perutmu...dengan ramuan bukan rahsia lagi. Di darek ikan air tawar di kail ditebar jala di danau, di sungai. Di laut dijaring, hingga ke laut jauh, namun resepi ikan dan sayuran tetap menjadi pilihan. Bismillahirrahmanirrahim...



***

Nota Ranah Minang, 28 Julai 2011(gambar kebun di Air Angek, pasar Padangpanjang@SZI 4-5 Jun 2011)






Tuesday, 26 July 2011

NYANYIAN BULUH PERINDU

MASIH INGAT angin menderu di gunung Ledang, ketika Laksamana Hang Tuah membenarkan Tun Mamad . Tun Mamad adalah Penghulu orang Inderagiri pun memanjat gunung bersama pengikutnya. Lantaran usia sudah senja Hang Tuah tiada tenaga untuk mendaki. Sebelum itu mereka mendaki ditunjuk jalan - Dendang Anak bernama Benua. Jalan mendaki terlalu sukar ' angin pun bertiup terlalu keras'. Maka dengan segaknya Tun Mamad bersuara " Berhentilah orang kaya dahulu biar beta naik " . Tun Mamad naik dengan pantas hingga tiba di batas buluh perindu, angin makin keras bertiup, awan bagai dapat dicapai. Segala tanaman hidupan menjalar , melilit, dan anika bunga berkembangan, mengikut alun buluh perindu. Siapakah yang meniup suling ? Hanya angin menderu, membuai batang buluh kecil dan besar, geselan batang buluh memberi irama khas rimba. Terpukaulah Tun Mamad, terhibur dan ingin bercanda dengan aneka bunga. Bunga pun bergurindam berseloka. Malah unggas dan pohon bersyair . Di sinilah dapat difahami makna kehidupan fikiran Melayu.Semua alam adalah citra untuk menyampaikan perasaan dan fikiran. Termasuk Tun Mamad dijadikan bahan citraan sasterawan tidak bernama. Pesona lama diangkat untuk menegakkan sindiran oleh pengarang. Maka impian Sultan Mahmud Melaka yang birahikan wanita istimewa menanding segala puteri di dunia turut diberi sindiran melalui pantun yang dinyairkan oleh bunga tanjung,



Dang Nila memanggu puan/Berembang buah perada/Adakah gila bagimu puan/Burung terbang dipipiskan lada



Maka disambut bunga telipuk,


Kuning Ledang bagai dikarang/Riang-riang disambar wakab/Hairan memandang dunia sekarang/Bayang-bayang hendak ditangkap.



Ayat ' memandang dunia sekarang' sudah memperlihatkan fikiran masa depan orang Melayu ketika itu. Masa depan yang berlagak, berupaya untuk menalakluki walau persiapan dan kemampuan hanya bergantug kepada keupayaan orang lain. Pantun membawa amanat masa lalu, masa kini dan masa depan. Inilah pula yang kerap berlaku ' mengharap sokong, sokong membawa rebah' atau 'harapkan pagar, pagar makan padi'.



FUNGSI perlambangan buluh perindu membawa makna sampingan lain. Buluh bukan sekadar memberi amanat dengan irama sayu mendayu, sebagai menyampai kisah hati dan hiburan santai. Sebaliknya buluh berfungsi beraneka ragam sesuai dengan bentuk yang dihasilkan.Dari situasi budaya tradisi kecil, di zaman awal kehidupan, di perbukitan, di pinggir sungai dan lautan buluh menjadi punca rezeki untuk melansung kehidupan. Maka buluhpun di sisip sasap menjadi bakul, bilah lantai, kelarai dinding, tiang dan atap. Makin tinggi pemikiran seni, makin indah dan tinggi pula daya kreatif. Bukti teknologi tradisi ini sudah terbukti dala seni bina terutama dalam menata dinding rumah, masjid, dijadikan kelarai menepis hujan , dianyam menjadi tikar ciur, tikar lapik untuk menikah pengantin lelaki, lapik untuk menyambut kelahiran bayi malah pertabalan diraja. Tikar raja berhiasan tambahan tekat dan sulaman berbeza dengan tikar biasa untuk yang kehilangan tahta. Peristiwa ini disebut dalam penarikan bakal raja Melaka, ' maka permaidani daripada Raja Muzaffar pun diambil orang, maka tinggal tikar hampaan orang banyak'. Demikian Raja Muzaffar putera Sultan Mahmud dengan isteri pertama digugurkan taraf Raja Muda diganti dengan Raja Ali puertama bersama Tun Fatimah (S.Samad Ahmad, peny.Sulatus Salatin, 1983:258)


Teknologi tradisi yang amat berfungsi mengikut zamannya makin dihindari. Kini teknologi baru makin menyingkir perlambangan buluh. Maka falsafah , ' melentur rebung biar dari buluh' semakin menghilang. Malah sikap ' buluh kelentong' semakin menjadi. Tidak ada lagi budi kasih seperti ' aur dengan tebing'.



MUJUR masih ada kesetiaan kasih si penuip suling. Beberapa wilayah pedalaman, pergunungan Asia masih mengangkat suling buluh perindu (buluh gading), menghimbau sukma jauh. Teringat salung makin mendayu-dayu di sukma Latif Mohidin walau dia jauh di benua salju. Penyair masih meratap kehilangan salung. Kutiplah puisi Firdaus Abdullah , Latif Mohidin, waris Minang masih saja membawa desir buluh Ngarai Sianuk, atau buluh perindu memanggil jauh dari puncak Singgalang, biar diri terlontar di air terjun Niagara atau mengutip cemara di Sisilia. Salung atau suling itu terus bergema di kalbu, hingga kerinduan tanah air teralun jauh dari rantau,


..' Kalau Sariyati ada di sini/kupeluk hangat seluruh tubuhmu/hingga salji yang putih/dan kamar seminar/menjadi Marapi di pagi hari/bagai aSingkarak ditimpa panas' (Firdaus Abdullah, New York 1975)


Kita juga mendengar " Buluh tidak terpisahkan dalam kehidupan tradisi budaya kecil nun jauh di pedalaman Sabah Sarawak, di Danau Toba, di Laut Tawar, bersambut deru angin di Danau Batur Kintamani. Kadang di sambut tabuh gong, wayang Jawa, suling tetap berisulan. Jangan berbohong wahai sahabat, bila kau meniup clerenet kau masih tergugah dengan sayu merdunya salung atau suling si buluh perindu.

***
Bukit Kanching, Rawang , 27 Julai 2011


Monday, 25 July 2011

Bucuk Masih Merajuk

BUCUK kami hampir berusia 3 tahun. Setelah menghilang lebih 9 bulan, kini Bucuk hanya mencuri masuk ke rumah. Selebihnya dia kerap pamer diri dengan menggulingkan tubuh gebunya, pusing kanan kiri tapi tidak mahu dihampiri, apalagi didokong seperti biasa. Kucing jantan memang tahu harga dirinya dengan gaya perkasa. Sejak Jingga kecil tiba , dipedulikan, Bucuk merasa disisihkan (aduhan tidak sekali). Muncul pula Momot, masih seketurunan Bucuk tapi kerana sama jantan, rasa iri tetap menggelitik resah Bucuk. Jingga dan Comot masih dapat berbaik...tinggal dalam rumah, memilih pojok masing-masing. Tapi Bucuk tetap saja berguling di lantai luar...selamat malam Bucuk, jumpa esok dengan mentari gemilang ya...Momot sudah dalam sangkar tak akan mengganggumu !


****


(Gombak, 25 Julai 2011)m

Sunday, 17 July 2011

Pamalayu II

BEBERAPA kali perkataan Melayu kerap mengusik minda saya. Rinikesumoyati kerap juga mengusik, “melayu, hei melayu, ayo, mbok melayu dengan cepet.”

“Hei Rini, memang aku Melayu, kenapa? Mahu kau Jawakan aku?”

“Ha?, memangnya kau Jawa, cepet melayu, ayo lari, lari kita harus cepat sampai ke puncak sana!”

Saya hairan dan baru maklum, perkataan melayu dalam bahasa Jawa, bererti lari. Kenangan peristiwa itu sungguh meruntun perasaan saya hampir lebih tiga minggu selama minggu suai kenal belajar di tanah Jawa. Tapi sekarang saya benar-benar berada di pinggir Sungai Melayu ... di sebatang anak sungai yang muaranya di Batanghari, oleh penduduk setempat di sebut Sungai Melayu; sungai inilah yang mengalir ke desa di Muara Jambi.

Kami sedang menatap peta yang besarnya sehalaman meja. Drs. Afzal masih ingin menjelaskan dengan baik tentang letak Sungai Melayu. Di sebelah kanan Drs. Afzal ialah Dr. Julie Alman, ahli arkeologi dari Cambridge, yang memberi kuliah di Bulaksumur, Yogya, akan memastikan letak Sungai Melayu yang kononnya adalah sebuah kerajaan yang telah dicatat dalam manuskrip kerajaan Singasari dalam pemerintahan Kertanegara. Kerajaan Melayu sudah terkenal sejak tahun 1268. Saya cepat mencelah, “Boleh kita pastikan sungai ini memang terletak di Jambi, bukan Palembang?”

“Ya, kalau menurut Ekspedisi Pamalayu, angkatan perang Singasari memang telah dihantar ke sini. Lihat arca `Amogapasya’ ini; inilah cenderamata daripada kerajaan Singasari kepada raja Melayu di Jambi, mungkin kerajaan ini telah dirintis sejak zaman Darmawangsa abad ke-10, anda setuju?”

“Ya, pastikan mereka datang bukan untuk menakluk Melayu.”

“Ah, anda sensitif sekali dengan perang .... kajian kita hanya untuk memastikan di mana Sungai Melayu, mana tahu, ia terletak di Bentan atau mungkin di Melaka?"

Memang saya cepat menyedari sifat nostalgia hati ini. Katalah memang benar Hang Tuah kecil bermain lading dari hulu Bentan menuju Temasik sebelum bertapak di Melaka, bukan sebaliknya, tapi Tuah juga merujuk dirinya sebagai Melayu, kami Melayu dari hulu Bentan! Dalam episod bermain di Taman Sari diungkapnya pula, “Inilah anak Melayu, berdarah Jawa juga!” Adakah ini gurindam seloka anak jantan Melayu Bentan? Bertingkah oleh sikap ilmu keguruannya yang pelbagai. Tapi apabila Drs. Afzal menyatakan, Hang Tuah juga bermukim di Sungai Melayu, di Jambi, saya hampir tersedak ketika mengunyah tempe masak lode di kantin kampus Universitas Jambi. Saya tahu mereka mengusik saya yang agak egois dengan asal usul Melayu. Tambah Drs. Afzal, “Tidak ada orang Melayu asli, kecuali Orang Asli. Kalau betul Hang Tuah Melayu Asli pastilah keturunan Jakun atau Semai atau Orang Ulu.”

Mungkin kata akhir itu boleh saya setujui, bukankah mereka berlima dari Hulu Bentan?

Tapi Dr. Julie cepat mengalih keterharuan saya dengan menukar tajuk perbincangan. Tambahnya lagi,

“Sebagai bandar niaga, Sungai Melayu adalah pelabuhan eksport tempat memunggah hasil rempah, segala buah pala, cengkih, kulit kayu manis, kunyit, dan halia kering bahan eksport ke kapal Turki, Gujerat, dan Madras, dan kapal-kapal sejak Dinasti Sung tiba dengan muatan sutera dan tembikar berisi telur asin dan taucu ...”

Saya kutip penerangan lanjut daripada ahli sejarah Universitas Jambi, Drs. Afzal pula. Tapi saya masih menatap gambar arca “Amogapasya”, arca disaluti emas, menyilau dalam buku Indonesian Arts. Tidak mungkinkah arca itu memang dihasilkan di Sungai Melayu, dan di sinilah bertompok segala emas yang didulang oleh nenek moyang orang Melayu?

“Emas?”

“Ya, emas datang dari sungai di sepanjang Bukit Barisan terutama di Minangkabau dan Kerinci!”

Akhirnya kami ke Batanghari juga. Fakhrul Rodzi, calon siswazah arkeologi dari universiti yang sama dengan gurunya, Drs. Afzal, menjadi pemandu kami dengan perahu enam kaki menyusur ke arah hulu. Air sungai tengah pasang dan kami dapat berkayuh dengan senang. Dalam tempoh 10 minit kami sudah melalui kampung Ulu Gedung, seberang Batanghari. Menurut Fakhrul Rodzi kami akan melalui beberapa buah kampung seperti Mudunglau, Jelmo, Olak Kemang sebelum Tanjung Pasir untuk mengunjungi informan kami, Pak Jamil.

* * *

Pulau Pandan jauh ke tengah
Di balik Pulau Angsa dua ...

Pantun di atas memang sengaja tidak kami selesaikan dengan maknanya. Umum sudah mengetahui dua baris di bawah itu. Tapi sekarang kami sedang mengkaji citra dan wilayah budaya yang dipinjam untuk menghasilkan pantun tersebut. Dari manakah asalnya, siapakah dan bilakah ia mula dicipta. Akhirnya dalam kelompok tutorial kelas sastera rakyat di bawah bimbingan Prof. Dr. Virousky itu kami harus akur dengan disiplin antropologi budaya bergabung dengan semiotik, dan perlambangan khususnya teori Geertz bagi mencari fakta di sebalik sumber etnografi juga. Teori Chomsky juga dijadikan rujukan. Tapi sahabat saya Dayangku Iriah, sering merungut, “ ... Kenapa untuk mengkaji pantun milik bangsa sendiri pun harus merujuk kepada segala titik bengik bangsa dan budaya asing? Ayuh, siapa mahu ikut saya, kita gunakan teori bangsa Suluk, Bajau, dan Irranun ...! Kita ada pengalay, kalang sama, ison-ison, ayuh, mari mulakan dengan batitik, pukul kulintang, pukul babandil ... nah, itulah lirik pantun kita, ayuh, nyanyi dan mena ril

ah ...”

Rupanya, Dayangku Iriah tidak main-main. Dari pejabat kedutaan Filipina dia mendapatkan sepasang busana pengalay, daripada koleksi Rumah Brunei dia mendapatkan seperangkat gelang aluk tujuh lapis, dari Yayasan Sabah dipinjamnya busana Bajau lengkap dengan sarimpak dan gerinsing emas. Entah dari mana idea ini, jadi sewaktu membentang kertas kerja tentang pantun Melayu, dia sudah sedia dengan keanehan yang mungkin muncul dan tanda tanya daripada profesor pembimbing atau mahasiswa sendiri. Sebelum acara perbincangan pantun, dia memutarkan muzik daling-daling, dengan sigap dia bergerak lincah gemalai, busananya lengkap salawar, berumbai-berumbai ketika dia menghayun langkah. Jemari kukunya berhias, tusuk rusa, baju berbutang betawi ... muzik kulintang lincah, rancak ... kelas tutorial menjadi hidup tidak lagi tersengguk-sengguk oleh kebosanan mengulangi rutin yang konvensional; pembentangan kertas kerja kerap membosankan malah si pembimbing juga kerap menguap dan mengantuk.

“Pantun Melayu ialah irama angin, air, api, dan bumi. Anda dengarlah tiupan bayu, jamahlah kehangatan api, kedinginan air hujan dan kelembutan bumi, citra ibu yang amat mengasihi ...” Itulah ungkapan pertama sahabat saya, Dayangku Iriah. Tambahnya lagi, “Sampiran pantun adalah kosmos dan batin Melayu itu sendiri. Di sana dia melihat sinar bintang, kedamaian dan kerinduan sinar bulan penuh, kilat ikan di air gelora asin laut. Keluk liuk jemari pakis di paya, dan bau asap sekam padi pada musim selepas menuai ...”

“Teruskan, teruskan ...” itu pasti suara Prof. Dr. Virousky.

Tapi pada pendengaran saya ketuk kulintang, paluan babandil ... dan kami bukan lagi di bilik tutorial. Dayangku Iriah sedang menjelaskan keindahan muzik dan busana masyarakat Bajau-Irranun, di Bostan Art Gallery. Begitu tangkas dia menyusun dan mempamerkan aneka jenis koleksi bahan budaya benda keagungan pemerintahan tradisi Melayu Brunei dan Melayu Suluk ... yang mewariskan kekayaan Bajau Irranun. Keterharuan saya amat ketara dengan kesetiaannya terhadap akar sejarah. Dalam kesibukannya sebagai atase pendidikan di Malaysian Hall, London, masih sempat menerima undangan sebagai kurator di galeri yang amat terkenal itu. Dan saya sendiri, yang bercita-cita untuk menjadi guru bahasa dan adat Melayu tapi tersisih dengan dunia ilmu hanya kerana bangga menjadi seorang datin, isteri salah seorang pegawai diplomat, yang kerap memperagakan aneka busana sutera Itali, Perancis, atau Korea. Saya sendiri tersentak apabila Dayangku Iriah menegur pakaian kebaya bersulam kerawang fabriknya yang dibeli di Korea, bermotif p ucu k rebung, yang jelas diciplak daripada kain sarung Kelantan, tapi diubah reka dengan corak dan warna ditambah pada fabrik sutera yang harganya, 10 kali ganda daripada sehelai sarung tenun Terengganu. Di mana Melayumu, wahai Datin!

Kali ini saya benar-benar berperang. Impian seorang sarjana yang meninggalkan tugas kesarjanaannya hanya kerana mengikut suami bertugas di luar negara.

Sungai Melayu di Muara Jambi, masih di situ.

Sungai Duyung ada di Hulu Bentan.

Atau Sungai Duyung juga ada di Melaka

masjid bersulur bayung dan perabung bertingkat tiga di Hulu Melaka, di Demak dan di Kampung Laut, siapakah pereka bentuk aslinya? Di manakah sungai Melayuku?

Atau memang benarkah apabila sarung pelikat dibawa dari Pulikat, apabila seluar dipinjam dari syalawar Gujerat, atau sutera dari China, Melayu juga telah kehilangan bentuk, mata coklat pekat atau hitam bersinar berganti biru, rambut menjadi blonde dan hidung, suara, dan gaya segalanya berpencar beraneka warna antarabangsa. Dan kini anak-anakku yang bebas keluar masuk Mall, aneka kafe moden di Menara KL Suria, mana, mamak cendol dan rojak di kaki pohon meranti di Jalan Ampang, atau di Hulu Kelang ...

“Nuwun sewo, bu,

sarapannya sudah sedia,

monggo bu ...”

“Ayo, ojo melayu, jeng ...”

Itulah suara di rumah kami. Inem dari Magelang, sudah tiga tahun merapi meja makan dan dapur kami. Puteri sulung saya berumur 15 tahun lebih arif, memasak pecel dan gudek, gulai nangka, bergaul opor ayam, keropok kulit perut dengan santan lemak, manis bergula daripada masak ikan cili padi berencah putik bacang. Kini dia belajar pula memakai kain wiron, meminjam batik Inem berhias, bunga sayap geroda, sesekali berdandan dengan siput gaya wanita keraton. Benar siapakah yang Melayu atau bermulakah Pamalayu?

Dayangku Iriah, benarkah sudah terpeta dunia Melayu baru itu?


*Cerpen 1990.

Saturday, 16 July 2011

SELOKA SI TANJUNG

1.

KAU datang juga!





Muara menatap langit. Langit memang tinggi. Tetapi aneh serasa dekat. Mungkin kelapangan pandang, menatap langit biru bersih. Namun ada juga yang menyendat. Sesak. Tiba-tiba langit seakan merintih. WArna kelbu dan gumpalan berat muncul bertombok-tompok. Gumpalan itu makin berat dan satu, satu muncul kilau runcing. Benar, awanlah yang merintih. Titis hujan menjunam runcing memenuhi tompok lapangan rumput pagi. Muara dilitupi kesejukan suasana. Tetapi, sekali ia berasa aneh, bagai disengati kepanasan. Simpang siur ngilu, meniup nyaring. Muara cuba mencari punca alur kepanasan sukma. Kemudian saling bertindih. Berlapis sayup dan jauh. Ah ! terlontar ke teluk. Teluk terbina oleh dua alur pantai yang menjulur ke luar melebih garis bumi seantero yang disingahninya. Bahtra telah jauh. dia melihat bahtera bergerak mengikut alunan gelombang. Sesekali didengarnya desah ombak menampar dinding badan bahtera. Bahtera oleh. Bukankah dirinya yang oleng, melambung cuba membuat imbangan gelora laut dan gelora diri ?. Diakah Si Maling Kundang kecundang di Teluk Air Manis . Hingga batera menjadi tompok-tompok gunung batu di pantai. Dan ibunda yang murka? Nyah lah diri anakanda. Sumpahanmu. Sumpahan dulu. Laut bergelora. Ada suara nyaring. Ada suara parau saling bersaing, bertingkah. Lalu pukulan rabana. Gerincing gelang kaki. Itukah gerincing sayu Tuan Puteri kehilangan Malim? Diapun mendengar tiupan salung. Sayup. Jauh. Jauh. Sungguh mereka bersayu hati. Mereka meratap. Menyanyilah mereka...'




' Malim, Malim Kundang

Malim Kundang Si Anak Derhaka ...

Malim, Malim Kundang

Malim Kundang, Kau Anak Mulia (pedulikan mereka mengata kau anak neraka )



Kaukah Malim ? Kaukah Muara? Masih di situkah kau Tanjung?



Dilihatnya sayap mentari kembali mengembang. Senja makin menjelang. Laut menjadi merah berkilau di kaki langit. Gunung batu dengan pandangan seakan bahtera berdiri dengan kukuh. Sayap camar terkembang , gerincing kaki kuda bergema.



" Ya aku datangan Tanjung"




Di pantai berteluk, kelihatan penuh pondok-pondok nelayan. Hampir senja di pantai tidak ada kegiatan masyarakat nelayang, kecuali mereka santai melihat mentari senja mencelah kaki langit. Ah! Tidak. Nelayan telah tidak peduli dengan pemandangan laut senja. Akulah. Akulah yang sering terpukau tetapi akhirnya sakit sendiri. Kebetulan memang bahtera tidak lagi kelihatan. Dan kau Tanjung tidakkah kau menunggu kedatanganku? Hingga jauh malam kala hujan tiba-tiba saja membasahi kampung nelayang, akulah yang berdiri sendiri di bahan pohon. Berlindung di bawah daun malam. Tidak ada suara. Tanpa cahaya. Aku terlempar lagi ke bumi seantero!




11.



Sayap mentarai masih mengembang. Lapisan awan semalam makin menipis. bayang gunung mula menyerlah. Kilau warna danau di kaki bukit menjalur dengan getaran kecil oleh buih udara. Gelembung kecil muncul dari gelepar ikan danau.
" Bagus namamu!"
" Kau juga, Tangjung."
Dua nama . Muara. tanjung. tetapi mereka justeru bertemu tidak di pantai. Muara muncul di gunung. Tanjung sedia berdiri di kaki perbukitan, kala hujan berderai, awan mendung. Tetapi seperti juga di laut, kala nelayan gelisah menatap langit mendung, di bukit juga petani resah walah tanaman semakin subur dengan renjisan air rahmat Tuhan. Tetapi beberapa karung guni bawang kering terlantar di batas banjir. Belum sempat dipunggah ke lori (truk), bebarapa selokam bukit runtuh. Jalan penghubunung ke kota terputus.
" Kalau hujan masih berterusan, kita pasti ketinggalan kenderaan untuk ke kota. Kenderaan terakhir pukul lima. Kalau hujan masih lebat, dengan jalan berkelok tidak ada pemandu (supir) sanggup melalui gelita malam."
Itulah keluh wanota. Si Tanjung gelisah. Dia mengutip keluhan itu. Ajaibkan suasana kala dia sengaja memilih pandangan danau dan bukit di kaki gunung tetapi dia sengaja memilih pandangan danau dan bukit di kaki gunung tetapi yang ditemuibnya , bayang Tanjung di Ambun Pagi.
Lantas didengarnya air terjun di Ngarai Anuk. Beberapa kelompok anak muda saling berkejaran. Ah ! dunia manis anak remaja. Ah, kau juga merasa kembali remaja?
Benarkah? Dia menolah ke arah tanjung. Wanita tinggi lampai dengan rambut melebih paras bahu. Lurus dan berkilau basah oleh gerimis. Apakah dia dara keturunan Puti Bungsu , cerita rakyat yang dituturkan dari mulut ke mulut dimbumbui dongeng purba. Agak sukar baginya untuk menebak usia Tanjung. Mungkin kerana potongan badan yang kurus renceng ditambah dnegan wajah tenang dan prihatin.
" Seperti anda juga bukan? Tasanya seperti mahasiswi tahun pertama saja!"
" Ah, anda bercanda. Lihat saja rambutku, telah mula ubanan."
tetapi Muara tidakpun melihat helaian rambut putih seperti tutur Tanjung . Sebaliknya, rambutnyalah yang mula dicelahi warna sutera kelabu dan tegang. Perlukan dia bertanya lebih lanjut atau wajarkah mereka mengenalkan diri masing-masing? Sebolehnya dia tidak ingin bertanya. Namun ada desakan lain sehingga dengan santai dia menerim apa saja yang ada di depannya. Ya, Tanjung. Atau kerana pancainderanya yang halus, hinggadapat didengarnya bait-bait seloka seakan dibawa dari arah bukit dan bayang gunung seakan memanggil jauh dari belakan. Kembang aksara mekar dan luruh di depannya ...
Kala Batanghari dan Musi ditinggal jauh
bayang mentari tinggal setapak
kala Panglima tinggalkan selokan akhir
hanya jejak ukiran purba
betapa Datuk Hitam mengurai kecewa
di mata Putera Sela- masih menantikag di sana
antara sedu harap dari Jambi
Sang Puteri Pinang Masak
atau sedu mimpi Puti Bungsu
sampaikah panglima Tunggal?



Betapa akan kukatakan padamu. Dia masih senyuman Tanjung. Tetapi bagai ada keluk sendu di situ. Mungkin lebih awal dari itua, dia pernah nampak wajah seperti itu. Di Mana? Tanjung? Tanjung pun melambai sapu tangan. Muarapun menjulur tangan, mengumpai gerak bistari. Ingin dicapainya sapu tangan Tanjung. Ingin dibelainya rambut Tanjung. Inikah gelisah ganas air terjun gunung yang menghempas batu gunung sebelum menjatuh buioh sabun serta geseran bening menjelajahi alur menuruni ke anak sungak, ke petak-petak sawah sebelum jatuh ke kuala? Bukankahhh di situ telah subur pohon kehidupan sert tanaman dan binatang peliharan. Bukankah di situ, Tanjung yang masih melambai dari celah rimbunan teduh itu?




" Kaukah di sana Tanjung?"

" Kaukah Muara. Amankah kau di sana?"

Aman?




... kalau tiba angin

mencenah buih Laut Sendidih

telah kembang sayap senja

kalau aku Muara

dijentik gelepar sedih

dari bahtera sarat lara

kau kah Tanjung

masihkah di sana? ...



Seperti bisa , di kebunnya. Tanjung meninjau hasil tanaman di bukit. Tidak jauh dari kaki gunung. Terletak antara celah dua gunung. Pohonan cengkih menebar harum pagi. Dari celah perbukitan agak ke bawah, jejeran pohon kopi juga telah mempamerkan putik-putik kecil yang mula menampakkan warna hijau dan kuning kecerahan. Seperti hari-hari lain, dia turun melengkkang menuju kebun sambil berseloka. Bercanda dengan burung pagi dengan sapa embun dan mentari sebebasnya. Telah lebih dua puluh tahun. Itulah gurindamnya. Itulah selokanya. Sehingga Muara tiba. Tetapi kenapa wajah itu muncul di baliknya langkahnya yang perkasa masih juga mempamerkan urat luka!



" Kenapa kau sedih Muara?"

" Sedih? Oh, tidak. Justeru aku asyik dengan selokamu. Dengan hasil tanamanmu. Siulan burung-burung pagi. Dan mentari yang mencelah di sana sini..."

" Inilah tinggalah atau warisan orang tuaku. Warisan yang harus ditebus setelah peristiwa zaman. Inilah tanggung jawab sekaligus simbol masa laluku...!"

" Peristiwa zaman?...simbol masa lalu!"

" Ya, kebun ini. Cengkih dan kopi ini. Dan kebun mawar sana. "




Hampir semalaman dia tidak dapat tidur. Di kamar tamu yang kecil tetapi lengkap, dia meneraang jauh. Malam makin dingin. Setelah hujang petang, malam menebar gerimis, dibawai aning angin. Tetapi sekitarnya penuh semarak dengan harum cengkih garing yang dipetik dan dijemur sebekun musim hujan. Mungkin kamar tidurnya bersebelahan dengan longgokan cengkih. Atau mungkinkah haruman itu terbit dari sentuhan air hujan ke atas tompokan pohonan di kebun? Dan derak apakah yang didengarnya serta kerdipan cahaya di luar kamar. Dan suara? Siapakah yang sedang bersenandung. Atau itukah seloka yang harus dikutipnya sepanjang malam? Patutkah aku bangun dan mengejutkan tuan rumah. Ah, kamar Tanjung di ruang muka sana pasti turut juga mendengar senandung itu. Atau memang suara itu dari saja. Perlukah atau sopankah aku keluar dan bertanyakan itu. Tetapi ah, bukankah dengan sikap dan perlakuan wanita itu kelmarin telah mengganggu kelakiannya apa lagi bila Tanjung memanggilnya, Adik!
Ah, kelakian manusiawinya selalu saja terjebak antara rasio dan emosi - gangguan suasana. Cuaca selepas hujan dan hangat harum sengkih makin menyengat sukmanya. Tetapi semua terbentur denga nucapan selamat malam Tanjung.



" Semoga saja, Adik bisa tidur dalam suasana sederhana di desa gunung kami!"

" Selamat malam...terima kasih kerana sudi menerima saya menumpang di istana ini, Kak!". Kakak? Betapa berat pula bibirnya menyebut gelaran itu. Wanita seperti Tanjung, kakakkah dia. Tetapi di mana Udamu? di kamar sebelah, lebih tepat lagi, kamar yang terletak agak menjulur dari anjung jelas menebarkan irama malam yang sukar ditebak makna dalamannya. Bagai ada desir angin menolak dari bawah bukit. Pasti angin dari danau di bawah terbentur dengan deru angin gunugn. Atau begitu gelepar sayap helang malam. Ah! itu pasti seloka . Dan bukankah suara atau datang dari kamar Tanjung?...




Tinggal Singkarak tinggalkah Mamak

datanglah hujan datangkah panas

datanglah badai datangkah sangsai

angsa laraku masihkah di danau

masihkah mengembang sayap kasih silau

kala ribangku, ribangku

pecah di kalbu

dan salung

ke mana alur ruangmu?



Oh, itu bukan seloka. Bukan gurindam. Tidak. Bukankah itu bait-bait sajak tidak selesai diikutinya pada helaian dan tompokan kertas di meja depan. Pasti itu tulisan Tanjung. Seorang wanita yang ingin meneruskan tanggung jawabh dan tugas warisan yang ingin menerus tanggung jawab dan tugas warisan sempat berpuisi sambil mengutip sisa-sisa kehidupan silam. Kalam saja Muara mempunyai sedikit keinginan nakal akan ditambahnya bait-bait catatatan yang belum selesau itu, beginilah...




Akulah hujan akulah panas

akulah badai akulah sangsai

masih saja angsa laraku mengembang sayap

di danau,

sambil saja salungku

meraungi , lagu-lagu ribang

ribang mautku...




Muara mengintai dari malam jauh. Suasana semakin sepi. Dari kamar sebelah anjung kelip lampu masih menyala. Ada sedikit gerak didengarnya. Ada seakan bunyi tapak dengan langkah teratur , perlahan menuju dapur. Kemudian terdengar dentingan cawan disusun Kemudian kembali derap langkah beralun meninggalkan dapur, menapak ke ruang tamu. Lampu dinyalakan cerah. Bunyi kertas diselak. Bunyi launjuran kaki ke atas kursi rotan. Kemudian senyap. Sesekali terdengar nafas dihela panjang. Ada keluhan sendu. Berulang. Berulang nada itu seperti bait puisi pula, sayu dengan nafas teresak. Kelakian manusiawinya dicabar lagi. Perlukan aku membiarkan duka lara Si Tanjung yang baik hati memebrinya kamar malam setelah kelewatan kenderaan di kaki gunung? Tidak sopankan kalau dia bertindak lebih berani, menghulurkan tangan menampung sedu-sedan malan sambil meletkan kembang putih di rambut yang terhulur panjang itu. Tanda simpati dri si pengembara laraku juga. begitukah cara terbaik bagi mebnehab gejolak dada tanpa sedikit pun memberi tanda tersentu oleh emosi cinta dan dia, seorang Tanjung!




111.




" Kalau Uda datang lagi, bukankah kerana panggilan sukma juga Dik? "



Memang ditatapnya kini bening danau . Langit menjadi bersih dan irama malam ditambahi cahaya bulan penuh. Puti Bungsi tersimpuh tenang. Di depannya penuh peralatan tenunan. Benang-benang pakan terjalur dari gelungan. Loseng dijalur mengikut susuanan bunga berpetak. Loseng dijalur mengikut susunan bunga berpetak. Mingkin menjhelang keberangkatannya Rang Muda di perantauan, tenunan selempang balapak itu pasti selesai. Dia harus menyediakan tenunan itu. Bukankah di situ letak erti kuwujudan anak dara . Sejak kecil diperhatikan oleh Mamak. Demi Ninik Mamak dia rela menerima tugas itu. Seorang anak dara yang dituntun untuk menjadi patuh dan horamta. Bukankah telah tersurat jakur dan tugas wanita dipusaki turun temurun di seda waris anaj gunung? Ya Gunung Merapi si Gunung Raya. Tetapi tahukan Ninik Mamak menebai hati nurani sang perawan. Bibirnya tertutur terasuh sejak sunti menjadi perawan santun. Tetapi siapa dapat menebak ombak hati yang sudah disentak kilat? Hati yang sudah melukuh oleh keberangkatan seorang Malam?



Bagaimanakh harus dituturkan kepada Rang Muda Malim. Tentang kepulauah putera Mamak dari arantau memabwa harta , aneka barang-nabrang berharga sebagai tanda mata. Haruskan dia melupakan janji sanak tentang pertunangan sejak kecil sedang kasih sudah berputik di sayap remaja, setelah Rang Muda tiba! Tenunan buatmu kini harus menyambut h ke putera Mamak pula . Puti pun berhati-hati mempamer wajah senyap dan , si putera Mamak dengan gaya angkuh dari rantau, bergegak gempita bermata nyala helang! Kau Malim, di mana desir bayangmu?



" Aku datang dik Bongsu !"
" Haruskah aku mengikuti derap langkahmu, sedang awan mula mendung dan kuharus menunggu lagi, sedang di halaman telah muncul bayang hitam. Selempang yang belum selesai kala kau harus berangkat! siapakah yang terlewat atau dia yang pulang cepat?"


" Kalau benar, kau dik Bongsu yang kukenali sejak dulu, masihkah kau ingat siapakah yang menemani kau ke permatang. Mematahkan batang padi dan meniup suling sambil kau berdesah ketawa mengejar pipit sawah...kala kau kuhantar ke sekolah , bukankah aku yang melindungi mu kala putera Mamak yan sering menganggu dan mengejarmu?"

" Kerana itulah Uda, kuingat pencak silatnu di halaman, juga angin yang memberikan khabar tentang bahasa selokamu yang menghimbau, indah nian puisimu, akulah yang menunggumu di bawah rimbun angsana dengan seikat kembang kering huluranmu tiap pulang dari hutan bukit, oh! Mande, demi Uda...ah! Mande, di mana kini Udaku, Mande "

" Dia ada di dirimu dik Bongsu!"

" Mana pedati kita Uda?"

" Kaulah pedati itu. Akulah kuda dulu. Ayuh, cepatkan langkahmu . Kita harus segera meninggakan desa ini. Di sini tiada lagi bulan tumpah di danau. Angsa-angsa kehilangan danau dan seroja tidak tumbuh lagi di sukmamu. Dik Bongsu! "



" Tenunanku belum selesai Uda! "

" Aku tak perlukan tenunan. Mana derap keberanianmu? "

" Keroncongku tertinggal di kamar"

" Aduh, dik Bongsu. Akan kubeli keroncong baru".




Selokanmu Tanjung. Sungguh mengharukan pentas malam itu. Mengharukan diriku sekaligus mencabarku. Muara masih dibauri keluhan jauh di Tanjung. Nalurinya bagai disentap. Akukah Uda yang datang kembali mencari Puti Bongsu? Setelah Dayang Uti berlalu . Setelah Dang Mandak dilarikan Tengku Siak dan Pulau Dayang Bunting dicemari bayang geroda. Masihkah Puti Bongsu bisa diajak bicara? Atau begitukah takdirnya Tanjung ditemukan dengan Muara atau begitukah olah Puti Bongsu kala berharap langsung dengan putera Mamak dan aku menjadi Rang Muda Malim? Muara! Malim?




Tanjung tersentak. Di depannya kini, memang ada Rang Muda. Sungguhkah Malim? Diakah Muara? Bercambah bening di semai lama. Kembangkah kelopak mawar setelah musim menggaring kebun bertahun?

" Kau datang juga Uda ?"

" Sungguh aku datang , dik"



Berkali Muara mengintai dari jauh. Rimbun aksara seakan melindung gerak Tanjung. Tetapi justeru dalam keteduhan menyelinap keinsafan. Setitis gerimis menikam, kembang semakin segar semarak. Begitu harapan Muara, harapan Si Malim, setelah meninggalkan pelabuhan memasuki kota Simara, setelah menyelesai kerja kehidupan, ada kehidupan jiwa yang harus disuak. Dia teringatkan nun jauh di darat, di atas bukit atau di dua kaki gunung itulah puncak Merapi-Singgalang...



" Demi aku, atau memang ada rahsia lain kedatangamu kali ini, Uda? "

" Beritahu aku tentang mitos gunung ini di Bongsu "

" Tidak ada mitos di sini "

" Ayuh, siapa yang memanterai puisi-puisi lara dulu , setelah Dara Jingga ke Jawa setelah Sanjaya tiba, apakah kau yang menerima lamaran baginda ? "

" Kau bukan pujangga itu, dan aku tak tahu dengan puisi mantera. Oh, aku tak pernah menerima lamaran itu "

" Tapi kau melahirkan seorang putera, justeru kerana itulah kau diangkat sebagai mahsuri dan menjadi bunda sejati !"

" Tidak, aku tetap dara abadi!"



Selepas itu hanya ratapan . Hanya pelukan rindu dendam. Rang Muda Malim , siapakah yang tidak mengenalinya sang pujangga yang tidak selesai menulis syair panjang, yang bersambung, bersambung menjadi episod berliku, bertunjang. Dan Puti Bongsu dengan seloka juga tidak pernah berakhir. Tetapi di mata Tanjung ada air pedih lain. Apakah Muara sesungguhnya ingin mencari mitos atau pengembara yang berhenti lelah dengan meladeni ghairah bermusim. di kebunnya tidak ada sisa dongeng yang dapat memberi khayalan seorang pengembara jauh. Tidak ada keanehan dongeng. Tetapi tahukah Muara, dongeng lara dirinya sendiri berentetan dengan musibah keluarga sejak angkara takdir zaman. Darah hina yang terpancar di kening ayah bonda, sehingga terlunta sepanjang hayat mereka sekeluarga!
Apakah hanya anjing-anjing hutan lebih mengerti saat luka sengsara keluarga yang telah dicap nanah masyarakat. Dapatkah dia melupakan darah yang membuak saat ayah ditusuk bambu runcing dan diseret sebelum dilempar ke api yang menjulang gombok kehidupan masa lalu itu? Ini bukan dongen Muara. Tidak mitos tetapi realiti masa lalu. Masa lalu orang tuaku. Bulan tidak selalu cerah. Hingga kini , kebunku masih saja terlindung dari cahaya bulan.

" Kau ahli sejarah Muara?"
" Aku hanya ingin istirah di gunung. Kutemui dikau di bukit senja. aku menghirup aroma cengkeh di istana comelmu.."
" Kau harus segera pulang esok, anam bahaya lama di sini. Kau ingat warisan takdir kehidupanku? Masa lalu orang tuaku, sebelum kau turut dituduh abnjing hutan berkurap? "
" Aku kurang jelas. Kebunmu subur . Aku ingin memetik limau (jeruk) dan kopi atah cengkih . Mustahil petani awalnya digoda angkara beigtu, maksudmu?"
" Pulanglah. Kerana sejarah keluargaku tidak tercatat dalam buku. Mustahil cerita anak kecil masa laluku bisa dipercayai oleh ahli sejarah seperti mu ? Atau kau juga turut menutup peristiwa dua puluh tahun dulu begitu saja. Seperti tulisan mereka mengkabur fakta dan memjelek perjuangan ayah dan kakekky, menyelamat kebun dan tanah leluhur - generasi kami tihiris kelar semangat oleh takdir. Tiada perlawanan. Begitukah sejarah?
Namun bagi Muara, masa lalu tetap masa lalu. Memang semua tidak melupakan masa lalu sejarah yang telah dimuziumkan itu. Cuma mungkin Tanjunglah yang mewakili luka sejarah masa lalu itu. Anak muda lain sudah lari ke kota Jawa. Siapa yang peduli ayahnya diheret, dihujani tikaman bambu runcing, luapan apoi yang tidak mengenal siapa lawan siapa kawan. Dan Muara sendiri, ayahnya pun menjadi mangsa bintang tiga di rimba Senawang. Dan datuknya terlonta di mata pedang Nippon di Ampang? Masih berdendamkan aku?
" Demi kebunku Muara, kebun warisan ini, bangun bersama pilu itu. Hanya di sinilah aku bisa meneruskan janji buat kedua orang tua...aku tidak pergi meninggalkan kasih sayang ibunda. "
" Dan jiran-jiranmu?"
" Mereka tak mengetahui sejarah hitam keluargku di desa asal . Di sini kubangun kembali warisan tanpa dendam. Aku ingin memutihkan kembali sejarah luka itu. Kerana di tempat asal peristiwa, aku terus dikutuk, dihina, nyahlah darah si hitam. Anjing hitam, kutau hitam. Oh! Tanpa seabrang pengadilan, ibu turut dihina, dicerca, cuma di sini di kebun ini, Tuhan masih sayangkan umatNya. "
" Dan Udamu "
" Ya setelah kami bertunang..tapi dia juga turut diseret hukum kononnya demi keadilan, nah kau lihat aku sendiri di sini dan dia jauh. Dia jauh!"
" Siapa? "
" Malim !"
" Rang Muda Malim? Jadi ada Malim ? "
" Ya Kenapa!"
" berdongenglah Putoi Bongus, berdongenglah "
" Kau keliru, Uda. Aku bukan Puti, Cuma Tanjung "
" Kaulah Puti Bongsi, Puti yang dikenali Rang Muda Malim "
" Kalau itu, memang betul "
" Kaulah dia Puti Bongsu. Puti yang dikenali Malim. dia masi utuh dalam suka Malim, percayalah "
" Betul. Sungguhkah ? "
" Oh, syukur "
" Tapi , Uda "...
Wajah Tanjung kini mengalirkan gaya Puti Bongsu dengan hiasan sunting penuh di kepala dengan baju labuh tenun balapak.
...kau pergi tanpa selempang sulamanku. Setelah putera Mamak mengetuh pintu rumah pusaka kami, setelah Mande pergi, segalnya hanuyalah impian dan kemusnahan kasih kita. Uda , setelah pergimu segalnya adalah kebun kering sepanjang musim. apalah ertinya danau tanpa angsa dan seroja nika warna? "
" Akan kucipta kembali kesuburan kebun kita. seroja dan mawar setaman"
" Mustahil"
" Sungguh"
" Aku tahu. Pergi ku jangan kau kesali. Walau kutahu kau mengutuk ku dulu...dan sang putera Mamak, oh ! Inilah kesilapan dulu Seharusnya aku juga berangkat lebih awal...dan kini, eh telah cukup gelaran ilmu walau bukan gelaran adat, percayalah hanya sekuntum mawar yang tumbuh di danau sukmaku.."
" Uda ! "
****
Batu Sangkar - K. Lumpur
1987-1988
(Dewan Masyarakat , Julai 1989)


MALAM GENDING (sambungan i)

" Tidak perlu, keheningan itu ada di sini." Nico menarik jariku dan meletakkan ke dadanya. Terasa dadanya berombak. Tetapi matanya masih terpejam. Alunan muzik senja berlagu tenang dengan iringan piano. Hanya beberapa orang saja pengunjung di Pelantaran Putera. Tetapi aku percaya Nico makin berangkat jauh. Aku berasa melalui ramasan tangannya ke jariku lebih membentuk ketukan gamelan . Serasa ada bonang dan saron. Suaranya mula meluahkan lagi bagai desah pesinden kraton. Akukah yang turut terhimbau masa lalu di sepanjang jalan di Malioboro dari Tugu menghala ke alun-alun atau Nico yang mula santaio menggamel di pedopo kraton Solo? Atau aku jugakah yang ragu-ragu menyapaku dengan gaya putera Jawa Tengah? Oh! Nico.


.... Masih dihidunya jalan senja di kebun Solo dari halaman kraton teduh kolam idaman. Gending seperti sedia - ketika Pangeran melangkah ke pendopo, di halaman sebelah kanan dengan jejeran bunga pot cina sedatar Alun-alun melurus pandang ke Tugu; matanya hinggap ke dahan beringin tua di halaman luar istana . Di situ sepasang burung gereja dengan sayap lembut abu-abu saling mengirai bulu kekasih - alangkah manisnya ingatan jauh, kala dia terlontar dari kebun impian. Bagai burung gereja yang di tinggal sendiri setelah pasangannya mati bila angin meniup duka tidak tahu mahu menghampar sayap di mana? Tiba-tiba dialah yang bangkit bagai Pangeran Muda. Dengan langkah sigap dengan bibir merah jambu idaman puteri-putera Mataram dan Ngayogya dalam lipatan panji dan cekak bahu ular naga pergelangannya yang perkasa dan kilat mata rindu. Dialah yang dibangkitkan dari titih jernih leluhur laut Pantai Selatan diarak serimpi bonda mulia.


Siapakah yang luluh . Siapakah yang tidak mengaduh? Seperti tidak apa-apa, seperti sepasang burung gereja sepi di dahan beringin tua. Dia kembali tertuntuk tetapi segera sedar lantas bergerak siap siap perkasa bebas darah menghangat tubuh sasa. Sebaris kumis yang melentur ikut gerak bibir mengukir senyum keabadian. Nah, kaudengarkan gemersik panji bersayap kepala geroda dan hamparan cindai mengampai bayang.


Dalam ceramah tadi dia sempat memberi definisi tentang alam budaya Asia. Menyentuh tentang seni Melayu Semenanjung. Di Luzon, semua budaya tempatan bagai sengaja dihilangkan. Kemudian ketika makan tengah hari sambungnya,


" Kamipun mulalah diajar berpakaian rambo, penuh renda dan sulaman; makan dengan masakan gaya Sepanyol. Kami digelar Indio. Indio pun menjadi hacendero, lelaki yang bekerja kera di industeri atau konon diberi pendidikan sebagai ilustrado. Tapi, ah, aku justeru jadi kehilangan sejarah dan akar" .


Sejak di sekolah menengah telah beberapa kali dia mengusul soalan kepada gurunya. Siapakah sebenarnya nenek moyang kita. Dia melihat lelaki kulit coklat berminyak jauh di pergunungan. Dari beberapa pulau dia juga melihat kepahlawanan bangsanya jauh di perairan Selatan. Tetapi begitu gurunya mengenalkan istilah pagan, dengan kepecayaan karut dan menakutkan, bila sejak 300 tahun Sepanyol merampas dan berkuasa hapuslah segalanya. Konon paganlah yang hodoh, bodoh harus ditenyeh. Gereja pun didirikan di merata tempat. Nico pun mula melihat lagu perih nenek moyang, segala milik anak bangsa dimusnahkan. Kesenian di Selatan juga tidak dapat berkembang, seniman dipatah semangat roh silam. Semua impian bagai kemusnahan warisan Mexico, potret nenek moyangku harus dirubah sejarah dan harus dijajah. Siapakah yang takut? Aku? Tidak, kawan!


Bukankah jiwa yang kalah saja ingin mengubur sejarah bangsa yang tegar di zamannya? Nico pun melontarkan dukanya dnegan amarah yang memuncak. Mungkin suaranya penuh dan mengaum di celah unggukan bangunan Fort Santiago. Rentak tango Latin Amerika makin memeriahi taman ibunda dan suaranya semakin serak luka. Jadilah bangsanya yang komersial yang vaudeville - penuh anekaraman dengan tandak ala Broadway. sukmanya semakin berdarah. Segalanya kosong. Julia pun tidak sudi lagi mendengar keluhannya.


Kelakiannya alah bila Julia memilih balet dan mengikuti Martha Graham ke Amerika. akukah yang duka yang kecewa kerana tetap mencari jejak leluhur?


" Tapi kau ada Jose Rizal !"


" Oh dia begitu lembut dan mati dlam kelembutannya "


" Ha? dia bersuara dan harus di buang ke Hong Kong? dia inteletual dan seniman? "


" Justeru itu ia dipermainkan oleh Revolusionis Andres Bonifacio"


" Dan Rizal dibunuh"


" Tak siapa melupakan tarikh itu"


" 12 jun 1898 ". Aku cepat menjawab, Nico membuka matanya menatapku, tepat.


" Oh, jadinya kita bicara soal politik juga ya ? "


aneh. Ketika sedang hebatnya darah muda sepuluh tahun lalu, kami tidak pula bercerita tetnang sejarah dan perjuangan masa lalu. Nico sering menolak kalau beberapa orang teman mula menyentuh hal-hal sejarah. Tetapi segalanya terjawab bila Nico tersus terang bersuara,


" Bila semua teman-teman pulang, kau, Ladda, Nyoman Angsana dan Fauzi, aku berasa kehilangan. Memang ada seorang dua pelajar Asia di asrama. Tetapi kami tidak begitu akrab. Ya, tempoh itulah waktu terluang. Aku mula sibuk dan kau ingatkan peristiwa pemimpin masa itu. dan aku dicoblos ke kamar gelap..."


" Maksudmu ?"


" Ya seperti kau tahu, aku terlewat menyelesaikan sarjanaku, selebihnya memilih Jawa dari pergi ke Eropah atau Amerika!"


" Oh, Mas Suryodiningarat..."


Kini lidahku dengan mudah memanggilnya dengan nama Jawa. Mas Suryodiningrat. Tiba-tiba gending pun bergema. Dengan jekas aku melihat keluwesan tangan dan jarinya menggamel sarong. Mas Suryodiningrat juga kelihatan melangkah tenang meninggalkan pendopo menuju ke Alun-alun. Di antara perbatasan dalam dan luar kraton dia berdiri di bawah pohon beringin rendah yang memayung hingga tubuhnya berada dalam keredupan sukma. Ketika itu aku masih bersimpuh membetulkan letak simpai dan hujung wiron.


...Menjelang musim sekaten bila belon-belon ditiup berwarna warni dengan aroma jagung bakar memenuhi lapangan malam, berselang pula dengan jejeran patung wayang, bergerak pula Semar dan Gareng, maka di situlah Pangeran bebas merangkul kepuasan hati. Bukankah dialah Putera dari Pulau Utara yang sudah sekian lama kehilangan tiupan suling dan terhapusnya aroma bunga matahari di kebun ibunda. Sehingga dia tidak mengenali nyanyian warisan gunung. Diapun meninggalkan Melolos. Lalu teriaknya, ' Selamat tinggal matahari panas Teluk Lamon di pantai laut lepas. Izinkan keberangkatanku. Sampaikan salam akhir cintaku pada ibunda Boyombong dan moyangku Tagalog Cabanatuan!"


Seperti deras air terjun bukit Pagsanjan , deras air mata cintanya terberai menyahut panggilan jauh. Bila serimpi mengusik sukma pencari erti kehidupan..' lupakan aku Nico Junior kini bergelar Mas Suryodiningrat'


Semuanya di sini. Bila air kasih keabadian menyiram sekujur tubuh pencari kedamaian. Diapun membuka selaput kepalsuan yang lama terpendam tanpa seorang pun dapat menghurai kekusutan sejarah moyang. Tidak siapa! Perlukah dilupanya bumi Cabanatuan begitu saja atau gending itu mengajarnya tentang kemanusiaan dan keluhuran! Ah, pedulilah. Diapun memilih untuk menabuh gending dan serimpi menyatu ke sukma serta gamitan ilmu dari guru alami.


...Upacara sekaten bermula sebentar lagi. Paduka Ratu akan berangkat tepat setelah waktu isyak. Gong Munggah disucikan. Begitu juga gamelan sekaten telah diarak masuk dan puteri-puteri kecil akan memulakan arakan sajen. Dan Mus Suryodiningrat...!


" Ya, Jeng Ayu..." Aku tersentak dari halusinasi jauh mengusik. Cepat mengembali ingatan dan suasana. Malam nanti ada pertemuan dengan dengan wakil kedutaan di Jalan Ampang. Tetapi Nico acuh saja..., " Bawa aku ke halaman hening".


Halaman hening? Mujur dalam keretaku masih ada beberapa buat kaset gending Bali. Mungkin serimpi telah mengajar tentang keheningan . Atau pendet mengajar tentang ketangkasan tetapi justeru kemuliaan hidup.


" Kau takkan mengerti. Sesipaq pun sukar percaya bila Tagalog Cabanatuan bisa betah dalam sila di pendopo. Kala angin senja solo dengan setianya memberi citra, setelah serimpi memberi pesan keabadian dan aku bangkit dari mimpi kesakitan...pokoknya di sanalah aku menemui akarku. Tiada duanya pusaka budaya kita di dunia ini. Kau juga begitu Jeng?"


" Serimpi?"


" Gending segala gending ".


Sungguh Nico telah menghayati jauh falsafah kekawin Sebagai putera Nusatara dengan label Mas Suryodiningrat, bukan sebarang orang bisa tembus ke telaga sucin di pekarangan rahsia kraton . Dia telah diterima di situ. Dia jugasudah menyatu dengan kerabad dalem Puri Ubud. dia turut menabuh gendang dalam upacara pendeta di bukit. Menari tanpa penonton , bayangkan siapakah mereka?


" Nic!...Mas Suryodiningrat..!"


Hati, hati kukejuti putera Nusantara itu. aku pula gementar bila menatap sang putera. Bagai seorang pengasuh begitu perlahan ku sentuh ubunnya. Malam nanti masih ada upacara terakhir. Malam perpisahan di kedutaaannnya. Dia telah diundang. Sehingga seterusnya, bayangkan saja dalam acara rasmi begitu warga Tagalog Cabanatuan datang dengan pakaian batik, kemeja berwarna coklat dengan motif sayap geroda penuh aroma asli bekas lipatan tekstil Solo. Sesosok tubuh sasa muncul dalam arena tamu yang dipenuh wajah-wajah tampan berbaju barong sutera benang nanas berwarna lembut. Lalu kudengar desis sang putera Nusantara,


" Kau lihat saja. Mereka begitu bangga dengan sulaman gaya Sepanyol -Mexico, duh Jeng Ayu!"




***


Ogos 1988


(Dewan Budaya, Februari 1989)