Saturday, 16 July 2011

MALAM GENDING (sambungan i)

" Tidak perlu, keheningan itu ada di sini." Nico menarik jariku dan meletakkan ke dadanya. Terasa dadanya berombak. Tetapi matanya masih terpejam. Alunan muzik senja berlagu tenang dengan iringan piano. Hanya beberapa orang saja pengunjung di Pelantaran Putera. Tetapi aku percaya Nico makin berangkat jauh. Aku berasa melalui ramasan tangannya ke jariku lebih membentuk ketukan gamelan . Serasa ada bonang dan saron. Suaranya mula meluahkan lagi bagai desah pesinden kraton. Akukah yang turut terhimbau masa lalu di sepanjang jalan di Malioboro dari Tugu menghala ke alun-alun atau Nico yang mula santaio menggamel di pedopo kraton Solo? Atau aku jugakah yang ragu-ragu menyapaku dengan gaya putera Jawa Tengah? Oh! Nico.


.... Masih dihidunya jalan senja di kebun Solo dari halaman kraton teduh kolam idaman. Gending seperti sedia - ketika Pangeran melangkah ke pendopo, di halaman sebelah kanan dengan jejeran bunga pot cina sedatar Alun-alun melurus pandang ke Tugu; matanya hinggap ke dahan beringin tua di halaman luar istana . Di situ sepasang burung gereja dengan sayap lembut abu-abu saling mengirai bulu kekasih - alangkah manisnya ingatan jauh, kala dia terlontar dari kebun impian. Bagai burung gereja yang di tinggal sendiri setelah pasangannya mati bila angin meniup duka tidak tahu mahu menghampar sayap di mana? Tiba-tiba dialah yang bangkit bagai Pangeran Muda. Dengan langkah sigap dengan bibir merah jambu idaman puteri-putera Mataram dan Ngayogya dalam lipatan panji dan cekak bahu ular naga pergelangannya yang perkasa dan kilat mata rindu. Dialah yang dibangkitkan dari titih jernih leluhur laut Pantai Selatan diarak serimpi bonda mulia.


Siapakah yang luluh . Siapakah yang tidak mengaduh? Seperti tidak apa-apa, seperti sepasang burung gereja sepi di dahan beringin tua. Dia kembali tertuntuk tetapi segera sedar lantas bergerak siap siap perkasa bebas darah menghangat tubuh sasa. Sebaris kumis yang melentur ikut gerak bibir mengukir senyum keabadian. Nah, kaudengarkan gemersik panji bersayap kepala geroda dan hamparan cindai mengampai bayang.


Dalam ceramah tadi dia sempat memberi definisi tentang alam budaya Asia. Menyentuh tentang seni Melayu Semenanjung. Di Luzon, semua budaya tempatan bagai sengaja dihilangkan. Kemudian ketika makan tengah hari sambungnya,


" Kamipun mulalah diajar berpakaian rambo, penuh renda dan sulaman; makan dengan masakan gaya Sepanyol. Kami digelar Indio. Indio pun menjadi hacendero, lelaki yang bekerja kera di industeri atau konon diberi pendidikan sebagai ilustrado. Tapi, ah, aku justeru jadi kehilangan sejarah dan akar" .


Sejak di sekolah menengah telah beberapa kali dia mengusul soalan kepada gurunya. Siapakah sebenarnya nenek moyang kita. Dia melihat lelaki kulit coklat berminyak jauh di pergunungan. Dari beberapa pulau dia juga melihat kepahlawanan bangsanya jauh di perairan Selatan. Tetapi begitu gurunya mengenalkan istilah pagan, dengan kepecayaan karut dan menakutkan, bila sejak 300 tahun Sepanyol merampas dan berkuasa hapuslah segalanya. Konon paganlah yang hodoh, bodoh harus ditenyeh. Gereja pun didirikan di merata tempat. Nico pun mula melihat lagu perih nenek moyang, segala milik anak bangsa dimusnahkan. Kesenian di Selatan juga tidak dapat berkembang, seniman dipatah semangat roh silam. Semua impian bagai kemusnahan warisan Mexico, potret nenek moyangku harus dirubah sejarah dan harus dijajah. Siapakah yang takut? Aku? Tidak, kawan!


Bukankah jiwa yang kalah saja ingin mengubur sejarah bangsa yang tegar di zamannya? Nico pun melontarkan dukanya dnegan amarah yang memuncak. Mungkin suaranya penuh dan mengaum di celah unggukan bangunan Fort Santiago. Rentak tango Latin Amerika makin memeriahi taman ibunda dan suaranya semakin serak luka. Jadilah bangsanya yang komersial yang vaudeville - penuh anekaraman dengan tandak ala Broadway. sukmanya semakin berdarah. Segalanya kosong. Julia pun tidak sudi lagi mendengar keluhannya.


Kelakiannya alah bila Julia memilih balet dan mengikuti Martha Graham ke Amerika. akukah yang duka yang kecewa kerana tetap mencari jejak leluhur?


" Tapi kau ada Jose Rizal !"


" Oh dia begitu lembut dan mati dlam kelembutannya "


" Ha? dia bersuara dan harus di buang ke Hong Kong? dia inteletual dan seniman? "


" Justeru itu ia dipermainkan oleh Revolusionis Andres Bonifacio"


" Dan Rizal dibunuh"


" Tak siapa melupakan tarikh itu"


" 12 jun 1898 ". Aku cepat menjawab, Nico membuka matanya menatapku, tepat.


" Oh, jadinya kita bicara soal politik juga ya ? "


aneh. Ketika sedang hebatnya darah muda sepuluh tahun lalu, kami tidak pula bercerita tetnang sejarah dan perjuangan masa lalu. Nico sering menolak kalau beberapa orang teman mula menyentuh hal-hal sejarah. Tetapi segalanya terjawab bila Nico tersus terang bersuara,


" Bila semua teman-teman pulang, kau, Ladda, Nyoman Angsana dan Fauzi, aku berasa kehilangan. Memang ada seorang dua pelajar Asia di asrama. Tetapi kami tidak begitu akrab. Ya, tempoh itulah waktu terluang. Aku mula sibuk dan kau ingatkan peristiwa pemimpin masa itu. dan aku dicoblos ke kamar gelap..."


" Maksudmu ?"


" Ya seperti kau tahu, aku terlewat menyelesaikan sarjanaku, selebihnya memilih Jawa dari pergi ke Eropah atau Amerika!"


" Oh, Mas Suryodiningarat..."


Kini lidahku dengan mudah memanggilnya dengan nama Jawa. Mas Suryodiningrat. Tiba-tiba gending pun bergema. Dengan jekas aku melihat keluwesan tangan dan jarinya menggamel sarong. Mas Suryodiningrat juga kelihatan melangkah tenang meninggalkan pendopo menuju ke Alun-alun. Di antara perbatasan dalam dan luar kraton dia berdiri di bawah pohon beringin rendah yang memayung hingga tubuhnya berada dalam keredupan sukma. Ketika itu aku masih bersimpuh membetulkan letak simpai dan hujung wiron.


...Menjelang musim sekaten bila belon-belon ditiup berwarna warni dengan aroma jagung bakar memenuhi lapangan malam, berselang pula dengan jejeran patung wayang, bergerak pula Semar dan Gareng, maka di situlah Pangeran bebas merangkul kepuasan hati. Bukankah dialah Putera dari Pulau Utara yang sudah sekian lama kehilangan tiupan suling dan terhapusnya aroma bunga matahari di kebun ibunda. Sehingga dia tidak mengenali nyanyian warisan gunung. Diapun meninggalkan Melolos. Lalu teriaknya, ' Selamat tinggal matahari panas Teluk Lamon di pantai laut lepas. Izinkan keberangkatanku. Sampaikan salam akhir cintaku pada ibunda Boyombong dan moyangku Tagalog Cabanatuan!"


Seperti deras air terjun bukit Pagsanjan , deras air mata cintanya terberai menyahut panggilan jauh. Bila serimpi mengusik sukma pencari erti kehidupan..' lupakan aku Nico Junior kini bergelar Mas Suryodiningrat'


Semuanya di sini. Bila air kasih keabadian menyiram sekujur tubuh pencari kedamaian. Diapun membuka selaput kepalsuan yang lama terpendam tanpa seorang pun dapat menghurai kekusutan sejarah moyang. Tidak siapa! Perlukah dilupanya bumi Cabanatuan begitu saja atau gending itu mengajarnya tentang kemanusiaan dan keluhuran! Ah, pedulilah. Diapun memilih untuk menabuh gending dan serimpi menyatu ke sukma serta gamitan ilmu dari guru alami.


...Upacara sekaten bermula sebentar lagi. Paduka Ratu akan berangkat tepat setelah waktu isyak. Gong Munggah disucikan. Begitu juga gamelan sekaten telah diarak masuk dan puteri-puteri kecil akan memulakan arakan sajen. Dan Mus Suryodiningrat...!


" Ya, Jeng Ayu..." Aku tersentak dari halusinasi jauh mengusik. Cepat mengembali ingatan dan suasana. Malam nanti ada pertemuan dengan dengan wakil kedutaan di Jalan Ampang. Tetapi Nico acuh saja..., " Bawa aku ke halaman hening".


Halaman hening? Mujur dalam keretaku masih ada beberapa buat kaset gending Bali. Mungkin serimpi telah mengajar tentang keheningan . Atau pendet mengajar tentang ketangkasan tetapi justeru kemuliaan hidup.


" Kau takkan mengerti. Sesipaq pun sukar percaya bila Tagalog Cabanatuan bisa betah dalam sila di pendopo. Kala angin senja solo dengan setianya memberi citra, setelah serimpi memberi pesan keabadian dan aku bangkit dari mimpi kesakitan...pokoknya di sanalah aku menemui akarku. Tiada duanya pusaka budaya kita di dunia ini. Kau juga begitu Jeng?"


" Serimpi?"


" Gending segala gending ".


Sungguh Nico telah menghayati jauh falsafah kekawin Sebagai putera Nusatara dengan label Mas Suryodiningrat, bukan sebarang orang bisa tembus ke telaga sucin di pekarangan rahsia kraton . Dia telah diterima di situ. Dia jugasudah menyatu dengan kerabad dalem Puri Ubud. dia turut menabuh gendang dalam upacara pendeta di bukit. Menari tanpa penonton , bayangkan siapakah mereka?


" Nic!...Mas Suryodiningrat..!"


Hati, hati kukejuti putera Nusantara itu. aku pula gementar bila menatap sang putera. Bagai seorang pengasuh begitu perlahan ku sentuh ubunnya. Malam nanti masih ada upacara terakhir. Malam perpisahan di kedutaaannnya. Dia telah diundang. Sehingga seterusnya, bayangkan saja dalam acara rasmi begitu warga Tagalog Cabanatuan datang dengan pakaian batik, kemeja berwarna coklat dengan motif sayap geroda penuh aroma asli bekas lipatan tekstil Solo. Sesosok tubuh sasa muncul dalam arena tamu yang dipenuh wajah-wajah tampan berbaju barong sutera benang nanas berwarna lembut. Lalu kudengar desis sang putera Nusantara,


" Kau lihat saja. Mereka begitu bangga dengan sulaman gaya Sepanyol -Mexico, duh Jeng Ayu!"




***


Ogos 1988


(Dewan Budaya, Februari 1989)


Friday, 15 July 2011

MALAM GENDING

" KAU , tahukan, sejak dari dulu aku impikan tentang kejujuran. Keabadian, keheningan seluruh kecintaan yang satu! "
Nico masih mengulangi ucapan yang sama. Sepuluh tahun lalu di kota Quezon, kutemui Nico ketika ku turun naik di Institut Pengajian Asia di Univ.Phil. Melalui Prof. Pilar Magamon kami mula membentuk kelompok kecil sepanjang hujung minggu di kampus Diliman. Tentu saja ketika itu kami lebih merupa pelajar belia yang hebat. Lincah dan ramai, khususnya ketika berdebar tentang politik. Walaupun beberapa kali aku mendengar Nico sering melontar rasa geram anak muda. Tentu saja yang menjadi sasran ialah Prof. Pilar L. Magamon yang begitu bergaya dengan cara manusia Barat.
"Orang kami memang lebih bergaya dan berlagak seperti manusia penjajah dulu". Itu gema Nico setiap kembali selesai makan-makan di apartmen Prof. Pilar. Tetapi Nico juga seperti pemuda-pemuda lain yang menjadi sahabatku. Kami bagai mempunyai jalur pemikiran yang sama.
" Kita harus membentuk pola kehidupan bangsa Asia . Ingat, ini bumi Asia Tenggara. Milik kita ini, kitalah yang harus membetulkan kembali kesilapan nenek moyang kita".
Ah! Selepas itu adalah lengkingan amarah pemuda Nico. Nico. Dia yang cus plas. Cus plas. tetapi semuanya berhenti setelah perasaannya reda. Begitulah suasana kampus Diliman khususnya di asrama yang didiami pelajar-pelajar asing sering menjadi riuh. Tanpa Nico kami berasa kehilangan. Malah Nico satu-satunya pelajar tempatan yang sama mengungsi dengan kami di asrama. Kata Ladda dari Bangkok,
" Bagaimana kalau kita pulang semua dan Nico tinggal sendiri tanpa memberi tahunya?"
" Akan kukejar kalian samua ! Ingat, ini semua rancangan Nico. Nico putera Tagalog Cabanatuan. Dan kalian adalah pengiringku". Itu jerkah Nico, bila mendengar cadangan Ladda. Tetapi selebihnya, kamilah yang mengetawainya, kerana Nico yang bersungguhan ingin menjadi sebahagian dari kami. Dia mula belajar membawa watak Lakon Menohra daripada Ladda. Mula menyusun daftar istilah Melayu-Jawa dan Bali.
" Aneh!". Gumam Nyoman Angsana yang begitu baik memberi beberapa istilah baru setiap pagi ketika mengambil sarapan. Tetapi kerap menjadi ramai bila Nico mula berbicara Jawa. Bayangkan saja di asrama pelajar-pelajar asing, kelompok kamilah yang sering menjadi gunjingan. Bila Nico mula bicara Jawa, Ladda berbahasa Tagalog dan aku berbahasa Siam. Dan yang bingung ialah Prof. Pilar L. Magamon guru bahasa di institut.
Kampus Diliman memang selalu kering terutama bila angin musim panas di bulan April menyimbah dari Teluk Manila. Setelah Nico keluar dari kuliah muzik, aku dan Ladda meninggalkan studio tari, kami selalu memilih Rizal Park. Di situ ada lekuk yang tersembunyi dari rimbunan pohon mawar renik yang membentuk denai. Tidak kira siapakah yang dulu sampai masing-masing akan melepaskan lelah setelah kuliah sepanjang hari. Biasanya Ladda yang begitu baik membawa bekalan minuman atau biskut. Setiap kami sampai, Nico sudah terlelap . Beberapa ekor burung merpati bagai telah mengerti akan kunjungan kami. Dari lekuk denai, kami dapat melihat dengan bebas ke utara, menghala jalan raya kota Manila. Tentu saja bayang tugu pejuang Jose Rizal tegak gagah. Di situlah punca keluhan Nico.
" Kita harus simpati dengan anak muda ini ". Beberapa kali Ladda menutur kata-kata yang sama. Tetapi hanya sebentar, Nico mula jadi pemuda yang cus plas, cuc plas. Lalu jadilah dia pemuda lincah , nakal dan romantik.
" Pernah aku digodanya, Nico begitu hangat ". Begitu satu sore ketika kami lebih awal sampai di taman, Ladda meluahkan rasa hatinya. Dalam diam-diam aku juga mengenangkan kemesraan Nico kala datang ke kamar studiku . Dalam sibuk mencatat beberapa perkataan dan istilah Melayu, Nico masih sempat mengusik dengan nada puisi cinta dalam lakaran notanya. Selebihnya ketika kami menyusuri seja di Ojeda Street, kurasa kehangatan jemari pemuda itu begitu memuncak dan aku menyenanginya pula. Namun dalam kenakalannya dia tetap sopan. Tegasnya , " kita manusia Asia. Bukan Eropah. Bukan Amerika".
Begitulah antara aku dan Ladda tidak pula berasa curiga. Seadanya menerima Nico sebagai sebahagian dari persahabatan kami. Malah kami seakan kehilangan kalau salah seseorang kami menghilang.
Itulah kenangan sepuluh tahun lalu. Kini aku tiba-tiba saja didesak ragu. Apakah benar pemuda lincah Manila Metro yang sering menjadi bualan mahasiswa di kampus Diliman dulu di depanku kini? Aku ingat lagi peristiwa gamat di Melolos dan di Makkati juga dalam acara berkampung di Teluk Tabayas. Bila Pedro mula mabuk dan memeluk Ladda dan aku terhuyung dalam dakapan Reynaldo. Nico begitu gelabah. Padahal dirinya menggomol Theresia dan Julia. Acara unggun api menjadi puncak kesedihan bila Nico tiba-tiba menghilang. Pada hal dialah ketua rombongan. Ketika Prof Pila. L Magamon dan Andres Sionel muncul kemudian , acara unggun api selesai begitu saja. Tidak ada acara perbincangan sosiobudaya dengan penduduk tempatan seperti yang telah dirancangkan.
" Dulu aku begitu emosional sekali - aku jadi cemburu bila kau dengan Reynaldo. Dan Ladda dengan Pedro. Ah masa lalu ". Itulah ucapan kedua, kala Nico kembali berada di sisiku di Kuala Lumpur. Malah lebih menjadi aneh, bila ia mengenalkan dirinya , dengan gaya baru dan tidak terduga kukutip patah suaranya,
" Panggil aku, Mas. Mas Suryoningrat, dari kraton Kota Kidul!"
" Mas Suryoningrat? - kau bercucu Nic !" Aku seperti tidak percaya dengan suara yang keluar dari kerongkong Nico.
Setelah selesai memberi ceramah di kampus, Nico berbisik ke telingaku, " Bawa aku ke halaman hening!"
Memang sejak dulu beberapa istilah seperti hening, sunyi, abadi begitu sering diucapkannya. Selintas ucapan lahirnya sering bercanggah dengan tingkah lakunya yang tangkas. Dengan jeans biru kusam dan jaket tebal penuh tempelan lencana, dengan motor pacuan laju , Nico yang kukenal jelas mewakili pemuda agresif tahun tujuh puluhan. Kini di Pelantaran Putera dalam alunan muzik senja ia begitu santai meletak kepalanya di sandaran kursi. Lalu kudengar keluhannya,
" Akulah putera Nusantara ! dan kau Jeng ayu, apakah Kuala Lumpur memberimu nafas keheningan ?"
" Putera Nusantara dari pantai Lamon?"
" Ah, tidak kisahlah tu, tapi kau tahu segalanya telah menyentuhku. Pantai Laut Selatan telah mengajarku jauh melampau dunia hening. Sukma yang terapung dan keabadian yang luluh, Jeng...!"
" Nic?"
" Sebut aku, Mas Suryodiningrat ! Di sana aku menemui akar. Bukankah kau juga menyebutnya dulu, tentang titih Semar dari dunia awangan yang turun ke bumi mencari kemuliaan!"
Memang dulu akulah yang banyak berdongeng tentang wayang kulit dan irama gending, bersama Ladda dari Akademi Seni Bangkok . Tetapi itu hanya bahan pengantar untuk apresiasi seni yang bakal kami persembahkan di kampus Diliman. Kini di Kuala Lumpur kala senja telah mengawang di bandaraya, tentu saja tanpa gending dan kelir bagaimana harus kuberitahu tentang impian itu ?
" Dulu aku hampir kehilangan. Mama hanya banyak berdongeng tentang Armando atau ketibaan bahtera Magellan. Atau nakhoda Miguel Lopez dengan angkatannya dari Mexcio dan pendeta Andres de Urdaneta. Dan aku tertanya tentang manusia peribumi di Cebu atau pergunungan Bagiuo atau bagaimana boleh hancurnya kepahlawanan Raja Solieman menantu Sultan Brunei. Nah ! Bukankah di sana baru aku menemui erti manusia kita, Manusia Asia yang berbudaya!"
" Di mana?" Barangkali aku masih lambat menangkap maksud tutur kata Nico. Pelayan datang menghidang kopi susu. Tetapi Nico meminta kopi pekat hitam. Gumamnya, " Saya mahu kopi asli "
" Pelayan berlalu sambil mengangkat bahu, dengan pertanyaan " Nescafe".
Sambil menunggu minuman, Nico masih memejamkan matanya. Tetapi bibirnya mengalunkan irama gending. Pandangan senja makin diruapi aroma rintik hujan malam. Aku tahu Nico telah berangkat jauh.
" Sudah sampai di mana anda "
" Cari aku dalam gending !"
" Tapi tidak di sini Nic , oh, Mas Suryo...atau kembali saja ke studioku, di sana ada sejumlah lagu-lagu Jawa. Atau gong agung Bali ! "
***
(...bersambung ke Malam Gending i)

SEHELAI DAUN BUAT MINA (sambungan i)

(sambungan ...)
" Lalu terus ke Bentan, lantas ke Hujung Tanah, ke , ke, ke Melaka, haa,haaa..."
Itulah ledak ketawa Irman. Itu jugalah hilai ketawa Mina. Kini Mina telah menambah dongeng dalam buku catatannya. Kepalanya sarat dengan pandangan muara dengan layar kapal yang berlabuh . Di situ ada kapal dari Maroco, kapal dari Maharajajendra Cola, dari Gujerat pengawal angkatan Sanjaya dan berikut tiba juga senarai Susuhan Ki Mas Hinda atau Almarhum Sultan Abd Rahman sebelum Mahmud Badaruddin Prabu Anum atau dia si Bagus Irmanto dan aku Nyi Mas Mina ha, ha ...
Pak Mansur, tuan punya rumah (lebih tepat disebut pondok) terus saja bercerita. Kononnya dialah pewaris tanah di puncak Seguntang. Dialah pengawal dan membersih makam -makam raja di situ. Moyangnya yang menanam pohonan mahoni, bungor, rukam, kerkup atau angsoka yang telah tinggi menua. Sehingga puncak Seguntang seakan meredup dan teduh . Dari jauh kelihatan bagai tompokan payung. Mina mencatat dalam bukunya ' inilah rimbun pelindung angsoka'.
" Dan aku pemayungnya", tambah Irman.
Tetapi dalam benak Mina, lebih tertumpu kepada bicara penghuni bukti itu sendiri (bersama isterinya) yang berkebun kopi dan kelapa di bukit itu. Juga memelihara ayam dan kambing. Menjadikan bukit itu berpenghuni. Dengan tiga orang anaknya yang masih kecil, Pak Mansur seakan gembira melayan pertanyaan Mina. Dulu, begitu Mina mencatat cerita Pak Mansur ..." Pak Adam Malik datang. Tiba-tiba saja dahan mohoni patah. Hujan ribut serta merta. Tidak lama kemudian ada utusan datang. doa selamat dibuat di puncak bukit ini..." Begitu luahan Pak Mansur yang dibaca semula oleh Mina ketika dia sendirian di kamar Swarnadhipa. Setelah pulang senja itu, Mina kembali melihat catatan lain yang lebih padat, mencatat renungannya sendiri.
Esoknya, ketika terjaga lebih pagi dia menyusur tebing Sungai Musi di bawah jambatan Ampera, tiba-tiba saja telah menongol bayang Irman. Tidak itu saja, yang turut terhambur di bibirnya ialah patah-patah suara dari sajak Rendra. Mina bagai terjebak dengan nada dan ajakan sosial yang keras paduan hati Rendrea dengan lenggok keras suara lelaki itu pula. Tetapi anehnya, kelibat Indera lebih menikam sukmanya. Mina bagai melihat getaran bibir Indera ketika berbicara. Pandangan sayu dengan bayan chaya yang menembus langir rindu. Bahasa yang disamopaikan lewat keluh dan hunjaman mata tanpa berkedip. Barangkali ketawa Irman yang sering berderai cepat menyedar Mina daripada berhalusi jauh. Di depannya air Sungai Musi memang keruh sert aberbau hamis. Pondok-pondok pasar dan kesibukan peniaga serta dering beca dan hon kereta (klakson mobil ) makin menyentak ilusi Mina. Kerjanya belum selesai. Cepat dia meraih kamera, mengeluarkankan buku nota. Dia telah mendapatkan sisi pandangan yang menarik.
Dua orang anak kecil sedang menyusun longgokan buah semangka, limau dan salak. Memang benar dia tertarik dengan kelincahan anak akcil itu bekerja tapi di mana pula orang tua masing-masing. Apakah mereka tidak pergi sekolah. Bukan sekali, bukan dua atau tiga kali. Telah kerap kali dia menemui pemandangan begini. Jauh kerap kali dia menemui pemandangan begini. Jauh di tanah airnya dia juga mengeluh pedih, sebilangan anak-anak muda masih ada yang tidak ke sekolah. Atau hanya setakat darjah enam dan kemudian mereka si anak-anak sudah boleh membantu orang tua masing-msing yang bekerja sebagai nelayan, petani , bekerja di laut dan daratan. Bukankah mereka kelak di masa depan akan menjaga unsur budaya setempat.
" Anda hanya merakam suasana yang jelek saja. Pasar sesak dan sungai kotor itu, ayuh marilah melihat pemandangan indah di taman atau di pantai rekreasi ". Begitu getus Irman di sisinya yang telah berpakaian rapi. Jauh sekali dnegan suasanan di pasar ketika itu. Atau lebih sendu, Mina membandingkan gaya Indera dengan Irman. Memang dengan car berpakaian Indera juga menampakkan kesan keharmonian yang menarik tetapi bila dia turut menunjukka jalan ke dusun-dusun tua yang masih meninggalkan kesan sejarah dan kopolosan alamiah, Mina bagai menemuikan punca mata air yang jauh tersembunyi di celah-celah kaki bukit. Indera yang lebih banyak diam, tetapi turut mengutip batu-batu kecil dan menunjukkan jalur tapan bitangan kecil di rimba yang mereka masuki di kaki Merapi, rasanya masih hangat dalam pengalaman Mina.
Setelah mereka ke pasar memotret kegesitan wanita berniaga, Indera turut menyelitkan cempaka kuning ke celah rambutnya. Cempaka kuning yang dibeli Indera ketika menemaninya ke pasar di pekan Batusangkar telah mengering dalam beg sandangnyatetapi masih membekalkan keharuman asli yang menyenangkan. Tetapi berdiri di sisi Irman, sepagi itu, Mina terhidu semerbak pewangi lelaki metropolitan.
Inilah hasil perkembangan takdir kehidupan anak-anak kecil yang kerap ditemui Mina. Irman bangun dari perjuangan orang tuanya yang mewah di Jakarta. Indera muncul dari kesan perjuangan orang tua pelaut dan dibesarkan oleh wanita desa yang begitu tidak sampai hati berpisah dengan putera tunggalnya. Dia tumbuh dalam keteduhan walaupun gesit menyambung usaha orang tua di kota. Tetapi tetap memilih kota kecil di gunung. Dan Irman? Dengan siulan memanjang , dnegan suara meniru gaya Rendra, iapun menjuadi burung kondor. Melaungkan lagi kelaparan lagu kesengsaraan para marhaen. Tetapi pernahkan dia merasa lapar? Dan tengah hari itu Mina pun dihidankan dnegan aneka masakan gaya Palembang. Tentu saja hidangan mewah di ruang makan istimewa. Sedang seminggu yang lalu atau enam bulan sebelum itu, Indera berbisik ... " Kenapa harusmembazir wang dengan memesan maskan dari restoran, ayuh aku undangkan untuk menikmatai masakan ibu ku di desa. Kau senang dengan ikan sungai bakar dan tomao muda, bukan? Merekapun berlarilari di celah kaki bukit menyuju kolam ikan yang diusaha sendiri oleh Indera, menangguk ikan kalui. Mina jua turut membantu ibu Indera , memetik tomato yang bakal di bawa ke pusat kota oleh Indesa esok harinya.
Sedang Irman, masih mengira-ngira bagaimana harus memulakan percakapan atau lebih tepat menyatakan undangan bagi acara makan malam perpisahan. dia telah memesan ruang makan hanya utuk berdua di Sarnadhipa. dioa juga telah memilih gaun malam lembut sebagai hadiah si bidadari impiannya. Pesannya pada pelayan, " penuhkan ruan makan dengan munga-bungan serta muzik santrai". Mina baginya adalah serindin manis untuknya sebelum mereka berpisah. di matanya tiada Sungai Musi. Wanita itu masih menampakkan keceriaan remaja walaupun dia tidak dapat mengagak berapakah usianya.
Tepatnya malam itu, Mina juga telah bersedia mengemas barang-baranng di kamar. dia telahpun memulakan beberaoa lembaran catatan. Dari Palembang , masih tersisa beberapa hari perjalanan lagi. Mungkin ke Rengat untuk mengikuti alur jejak sultan Mahmud di Kampar sebelum Siak Inderapura. Oh, Indera Laig. Mina membuka diari. Meliaht tanda hari bulan. apakah tepat seperti janji di Tabing dulu, Inderea akan menyusul dan menungguhnya di Inderapura? Dengan mendengar ketukan pintu di luar kamar , yang dibayangyan ialah wajah pemuda teduh itu. Mina mengintai di lobang kaca pintu tembus ke biji anak mata seseorang yang berdiri di balik pintu. Dibukanya pintu setelah memastikan wajah petugas hotel sedang menunggu - pelayan membawa sejambak bunga mawar kuning dengan pesan, " Tuan Irman menunggu Nona di ruang makan, silakan..."
Mina tidak pula menolak undangan Irman atau Tuan Irman seperti yang diucap oleh pelayan. Tetapi yang turun ialah Mina yang sukmanya telah dipenuhi oleh semerbak cempaka huluran Indera sejak di Batusangkar. Mina sudah memaparkan kekeruhan Sungai Musi kepada Irman, tetapi menjulurkan kakinya di paras kedinginan jernih Sungai Bengkaweh bersama Indera dan bukankah Indera telah mengutip sehelai daun angsoka buatnya!

***
Palembang-K.Lumpur 1987-1988
(Sabah Times, 29 Mei 1988)

Thursday, 14 July 2011

SEHELAI DAUN BUAT MINA

" WANITA , yang bakal bakal menjangkau usia 40 tahun ,
nah - kalau lihat lah kerus air Musi itu
lelah helang menuju benua
dan kering daun, gugur
itulah potretku , Irman..."
Irman menatap mata di sisinya. Tetapi aneh dia tidak melihat keruh air sungai Musi. Tidak mendengar lelah helang walau kerap terdesau gelepar sayap burung itu. Daun keringpun gugur, bukankah wanita itu yang kerap mengujmpul helaian daunan kering, menatap dan memilih, menyelipnya di celah helai buka notanya. Mina . Kau aneh saja. tiba-tiba mahu saja dia memeluk pinggang ramping Mina. Mina yang tinggi lampai. Langkahnya teratur walau pun jalannya begitu cepat mendaki bukit sambil meredah semak-semak di sepanjang lorong ke puncak Seguntang. Bahunya sarat. Beg (tas) sandang di sebelah kiri. Kamera di sebelah kanan. Sejak dari mula pertemunan di Tabing. Sebelum tiba di bandara Sultan Mahmud Badaruddin. Ketika jalur Musi dilihat melingkar dari pandangan udara, rasnya yang meliuk dan mengibas-ngibas ialah hantaran harum rambut wanita itu. Pasti wartawan. Jelas. Mina mengenalkan dirinya ketika dia meletak berk di halam luar bandara . Irman terkilas dengan kartu nama yang tergantung di leher tangkai beg sandang. Nama: Mina (kemudian disebutnya, Siti Aminah - jelas nama Melayu tradisi). Pekerjaan : Penulis. Tambahnya lagi, penulis kembara.
" Penulis Kembara ? O, kerja yang menarik "
Dan wanita, Minapun melambai teksi. Aneh dia pula yang segera mengangkat beg Mina ke dalam teksi. Dia juga membayar tambang teksi. Hampir saja terjadi pergaduhan kecil bila Mina menolak wang huluran Irman. Mina mendelik curiga. entah kenapa juga Irman seakan tercabar dengan gaya wanita yang telah diintipi geraknya sejak hampir sejam pernerbangan. Segera idea terus terangnya muncul menyelesaikan teka-teki pertama,
" Anda, tetamuku di negeri ini. Nah! Selamat bertemu dengan jejak nenek moyangmu di kaki Bukit Seguntang nanti. Selamat ".
" Bukit Seguntang? Kau tahu tujuanku ke sini? Oh, Tuhan".


Entah angin dari mana atau arus dari arah mana, selepasnya , Irmanlah yang menghantar Mina hingga ke lobi Swarnadhipa . Hotel ini menjadi pilihan pertama Mina sejak matanya mula merayap mencari hotel di Palembang. Swarnadhipa . Pulau Emas. Inikah pulau yang penuh emas, kala I Tsing pertama kali menjejak kakinya bila Sanjaya mula melebarkan sayapnya hingga ke pulau-pulau cengkih lainnya. Atau begitukah jadinya , bila Sapurba meninggalkan Batanghari dan Musi mencari tapak baru di Inderagiri sebelum membina tapak baru di istana Pagarruyung. Enam bulan lalu telah disimpulnya dalam rencara terpanjang tentang asal usul Datuk Perpatih Nan Sebatang, tentang Bunda Kandung dan Cindo Mato. Kala Indera Iskandar memberinya berita tambo, dia telah mengutip salung sepi jauh di kaki Merapi, di celah Bengkaweh dan gerimis di Ambunpagi. Indera lah yang memberi peta lengkap, kerana dia tahu Mina harus mencari tapak sang Sapurba asal. Mungkin juga akan ke sana. Bisa Indera.


Memang Mina mencari tapak itu. apakah ini telah diketahui Irman juga? Mina menatap mata lelaki segak di depannya. Selintas dia melihat mata Indera juga di situ. Mungkin kerana jalur senyum tipis daripada bibirnya. Atau profil muka bujur. Tetapi Indera hanya mengucapkan salam perpisahan ketika Mina melangkah meninggalkan Tabing. Indera turut memberi bisikan, supaya berhati-hati di Palembang. Inderalah meremas bahunya hangat. Membuka kalung lehernya, " ...Supaya kau tidak diekori perompak!" Hampir saja Mina tidak jadi berangkat bila didengarinya keluh Indera, " Hati-hati di sana, aku tidak dapat menemanimu. Tapi kutitipi hatiku sepanjang perjalananmu". Tetapi kini di Palembang muncul pula Irman. Begitu cepat putaran hari. Irman ... sehelai daun tiba-tiba gugur. Mina cepat mendongak ke atas. Dilihatnya pohonan angsoka begitu gagah. Tinggi dan kembang dengan dahan-dahan yang bercabang. Segera dia mengutip daun angsoka kering itu. Cepat juga dia meneliti urat daun yang menjulur, menirus hingga ke hujung. Irman masih berdiri di sisinya . Seharusnya lelaki itu tidak ada lagi di sampingnya. Dia semestinya sudah berada di gudang perusahaan orang tuanya di kota. Atau paling istimewa semestinya berada di sisi pacar yang pasti menunggu ketibaabnya setiap hujung minggu di kota Sanjaya.


Dari puncak bukit, memandang ke barat kelihatan liuk Musi yang keruh. Tompokan jaluran perahu dan kapal-kapal berlabuh serta bumbungan rumah sepanjang alir sungai itu. Mina terfikir sejenak. Pemandangan itu telah cukup sebagai intro laporannya nanti. Pasti Pak Lukman senang dengan cara catatannya untuk ruang sepanjang jalan di majalah bulanan. ketua editor itu telah memberinya kebebasan penuh bila dia merakam nilai-nilai sosiobudaya. Merakam hal bentrokan masyarakat dalam arus pertembungan nilai urbanisasi.


Bukankah Pak Lukman yang sering mendapatkan tajaan untuk perjalanannya sebagai penulis kembara. Gila ! Gerutu pegawai kewangan pejabatnya (kantor) yang tidak setuju dengan tugas Mina. Tegasnya..." Mana ada jawatan tetap Penulis Kembara ? " Tetapi itulah idea Mina sendiri. Dia ingin menulis. Bekerja sebagai wartawan sambilan. Tetapi tidak senang dengan tugas-tugas terburu seorang wartawan. Ulahnya memang memeningkan Pak Lukman . Tetapi Pak Lukman tutrur tertarik dengan hobi anak buahnya. Menulis sambil berjalan? Okey saja.


Hanya sebuah saja rumah yang ditemui Mina di puncak Seguntang. Setelah meredah lorong semak hampir setengah jam, mereka pun berteduh di bawah pohon angsoka. Jelas, nama bukit yang telah lama menyentak -nyentak perjalanan hariannya hanya tanah tinggi yang merupakan tempat makam keluarga Raja-raja lama. Makam Raja-raja silam dicatat dengan deretan nama yang memang pernah ditemuinya dari senarai kitab-kirtab purba. Mungkin nama Segentar Alam itu menarik perhatiannya. Nama yang muncul sejajar sebelum kemunculan Seriwijaya. Nah, inilah titih awal Melayu. Dia teringatkan lagi cerita Indera, tentang Iskandar Agung. Tetapi sekarang dijelaskan oleh Irman. Segentar Alam disebut juga Iskandar Alam. Tetapi jauh di seberang sana, ketika berada di tanah Acheh, Seri Lanang telah mencatat tentang keturunan Iskandar Zulkarnain. Irman tiba-tiba ketawa. Suaranya bebas cerah. Mina tertarya, kemudian dikutipnya ocehan Irman,


" Kau percaya dongenganku ?"


" Aku suka dongeng. Tapi bukan dongenganmu? Ayuh serius kawan. Kau tidak main-main kan. Atau memang ada yang melucukan ? "


" Tidak, aku senang dengan gayamu...atau begitukah cara penulis kembara?


Ya, beginilah dongengan itu...bila Tuan Puteri Rambut Seleko, diintip Pangeran Jawa, tetapi hatinya telah terpaut dengan Pujangga Lela dari Bukit Sitinjau Laut...Dia telah siap dengan tenunan naga berlaga. Serta sumping berkilat disepuh emas sepuluh. Sayang Pujangga terlewat tiba dan Pengeran Jawa telah sedia dengan tambur dan gong penabuh. Hanya kisah. Puteri Rambut Selako... aaa pernah kau baca tambo begitu di Ranah Minang ?"


Bukankah begitu juga yang dikutipnya dari mulut Indera ketika mereka bersama menghirup kawa daun (kopi daun) di perjalanan ke Batusangkar, bercelahan sisa langit akhir bulan Mac seminggu lalu? Seperti dongeng Puti Bungsi dengan Putera Jawa, tetapi bukankah Sang Pujangga yang berhasil mengalahkan desah amarah mamak sebelum tumpah darah percintaan dan permusuhan yang tidak pernah selesai di halaman nan berpanas?


" Tapi itu tidak penting. Kau tentu lebih arif tentang Demang Selebar Daun. Atau Sang Sapurba. Tengatang perompak Cina dan kesunyian Swarnadhipa selama hampir 200 tahun sebelum munculnya Singasari pada abad ke 13..."


" Serta kemunculan keturunan Raden atau Ki Mas atu Bagus Karang. Dan anda putera Bagus Irmanto? Nah, selamat berkenalan, akulah Siti Aminah binti Ali Usman. Setelah Batanghari dan Muara Jambi, moyangku ke Muara takus terus ke Tanjung Batu..."




(....bersambung )

PURI KENCANA - sambungan (ii)

SEPERTI juga dirinya dulu, pernah hangus oleh kebakaran nafsu silam. Kini telah dialihnya kehidupan dengan kebersihan penuh. Tarian hanya untuk keselamatan rohani. Bukan untuk pelacongan, dijual bagi memeriahkan laman perniagaan. Puri Kencana tidak akan memberi ruang untuk persembahan wang. Tetapi demi kecintaan seorang ibu selebihnya kerana mengenang remaja silamnya yang manus, dia merelakan juga Nyi Ratna menemui Inau Suvharna berjalan-jalan ke pantai dan ke danau. Mengutip batiu-batu cadas di kaki Gunung Batur ! Seterusnya mengikuti upacara s'lametan.

Mengikut tarikh Masihi, bulan belum lagi mengambang penuh. Tetapi titik-titik bintang telah berjejer di langit. Langi biru nila bersih diperciki warna emas taburan bintang, kelihatan sebagai hamparn permaidani. Dari arah barat kedengaran desah ombak. Memang Puri Kencana menghadap laut. Menjelang malam, puri tidak pun didatangi oleh wajah-wajak asing. Tidak ada jurufoto seperti umumnya kelihatan memenuhi beberapa sanggar atau puri lain yang bersifat perdagnanan, yang membuat persembahan di siang hari. Di depan balai besar, terpampang pura Agung! Gagah dikawal dengan arca penglima di kiri kanan tangga, berpayungkan irama terumbai-umbai. Nyi Ratna Suwarni telah pun ke kamar menyalin pakaian. Kini dia menanti penari itu muncul lagi di halaman pura agung. apakah akan wujud lagi Panji atau Galuh. Sambil menunggu doa s'lametan selesai, dia cuba mengintai bayang Nyi Ratna Suwarni tetapi sia-sia saja. Wajah itu tidak juga tiba . Apabila barongan muncul dengan wajah singa dan bersayap merak, darahnya makin cepat mengembang naik . Muncul pula wajah seorang raja yang bengis dan perkasa, datang pula wanita separuh baya yang direntap dan diikat di pohon kemuning di kanan arca (patung) panglima. Gendang ditabuh sayu mengiringi lagu nyanyian wanita yang diikat kejam. Ini pasti babak sedih. Tetapi di mana Nyi Ratna Suwarbi ?

" Itu Nyi Sukasih, Ratu Puri Kencana". Inau mendengar suara di sebelahnya bagai menerangkan sesuatu untuk pengetahuannya.

" Nyi Sukasih?"

" Ya, ibunya Nyi Ratna Suwarni!"

Sukasih! Sukasih! di manakah dia pernah mengutip nama itu. Fikirannya berputar 180 darjah. Tetapi belum muncul juga bayangan atau punca di mana letak nama yang tercat di otaknya suatu ketia dulu.

" Dia penari tenar di zaman almarhum presiden. Terkenal di Tampak Siring"

Gendang kemudian ditabuh rancak. loangkah Barongan diganti dengan Rangda, gerak-gerak beraru dengan Liak dan wanita yang terikat di pohon tiba-tiba merentap ikatan dan bebas berlari ke sna ke mari dalam tangisan yang makin menghiba. Beberapa desas desus telah mula kedengaran. Aneh , mereka bagai dikejutkan dengan gerak-gerak persembahan. Dia juga merasa tidak enak. Atau lebihnya merasa aneh bercampur takjub apabila watak yang ditunggunya muncul dengan pakaian songket berulam motif Ligor. Dia memerhati lebih teliti. Jelas sulaman dari dari asalnya membaluti tubuh Nyi Ratna Suwarni. Lebih ketara lagi, gerak tarian Pulau Dewata yang dinamis bertukar menjadi gerak Lakhon Nai atau Menohra dengan kecopong bertingkat. semua penoton ternganga. Belum pernah daam upacara s'lametan pertengahan bulan, tarian itu dipersembahkan. Inau sendiri tertanya apabila yang mengiring gerak tari Nyi Ratna Sukasih penuh dengan laungan nama yang amat dikenalinya. Nyi Sukasih menlaungkan lagu Phra Ram. Phra Ram. Gendang ditabuh makin kencang. Semua pemain gamelan bagai turut terpukau dengan gerak baru di depan mereka. Mungkin Nyi Sukasih telah mendapat ilham hingga tercetusnya karya baru.

Tidak tahu, semangat apakah yang meruap hingga dia turut bangun memintas di celah-celah penonton, masuk ke ruang di depan pura Agung. Suasana bingar tiba-tiba terhenti. Semua mata tertumpu ke arah sesusuk tubuh tercegat di depan mereka. Nyi Sukasih bagai diterik meluru ke arah susuk tubuh yang ditunggu begitu lama. Nyi Ratna Siwarni terpukau dan terpegun. Wajah teman yang baru dikenalinya kelihatan merah dan pucat silih berganti.

" Inau suvharna. Inau Suvharna!" Tetapi suaranya tidak menghbur keluar, ditandingi pula oleh teriakan ibunya yang penuh kesayuan...." Phra Ram, Phra Ram ! Kau datang juga setelah hampir 20 tahun... "

Phra Ram?

" Aku Inau Suvharna. Inau Suvharna". Tetapi suarntya juga tersekat di kerongkongan. Wajah Phra Ram muncul tiba-tiba. Phra Ram yang amat mesra di lubuk kasihnya telah dilaungi Nyi Sukasih. Amat lirih amat pedih. Phra Ram. Nyi Sukasih. Phra Ram. Nyi sukasih. Otaknya ligat antara seribu kebingungan. Pesanan lampau ayahnya menggemua,

" ...Adikmu. adikmu ada di Pulau Selatan . Inau, Inau kuncungi dan cari adikmya!" Itulah pesan bertahun silam dan kini kata-kata itu muncul tiba-tiba. Dalam bayangan suara Phra Ram dia kembali disedarkan deengan lantunan wajah Nyi Ratna suwarni. Tiba-tiba muncul wajah Phra Ram di situ. Juga wajahnya ketara antara celah bibir tipis dan eltak bola mata yang muncul di bawah garis menyepet ke hujung. Wajahnya tumpah di situ. Wajah ayahnya mengalir di situ.

Bagai gaya seorang Phra Ram, Inau memapah Nyi Sukasih yang sudah terkulai. Semerbak harum kemboja di kepala penari itu mengingatkan dia dengan sekeping gambar besar di kamar ayahnya jauh di tanah Ligor. Wajah penari dari Pulau Selatan yang menjadi subjek renungan lelaki, ayahnya kemudian tersisih di hari-hari akhirnya kehidupannya. Dunia politik yang telah menghumban sisa hidupnya penuh calar balar hanyut dan tersisih. Nyi Sukasih telah longlai dalam dakapan lelaki dari Ligor . Nyi Ratna Suwarni tercegat kaku, sehinggalah terdengar suara lelaki tua berdiri tepat di depan mereka,

" Kaukah Inau Suwarna, cucuku?"

Ada tarikan kasih pecah di lubuk hati masing-masing. Suara mereka saling bertingkah,

Suwarni, adikku!"

Suwarna , abangku !




Den Pasar, 1985


PURI KENCANA - sambungan (i)

Kini dia munda mandir di depan Puri Kencana. Beberapa orang kanak-kanak mengunjukkan arca-arca berukir serta serunai kayu aben. Dicubanya satu dua batang serunai, tetapi tidak menimbulkan bunyi yang disenangi. Dia memulangkan batang serunai dan terus menyusur beberapa s3elokan di celah-celah lorong depan hotel, sehinggalah matabya jtau ke atas huruf-huruf yang timbul di atas pintu gerbang. Puri Kencana. Puri Kencana ! Wajah Kalamukara terpambang gagah dengan sepuluh jari yang mengembang di puncak gerbang. Satu ajakan menarik. Akan melangkahkah aku ke dalam? Atau memangkah muncul wajah peribadinya di situ seperti dia berlari santai dan bebas di tanah airnya yang juga mempunyaiu wilayah yang sama namanya seperti puri di depannya. Puri Kencana? Kanchanabhuri? Mana yang asli? Apakah telah ditakdirkan, aku seorang Ianau lahir di bumui utara dan dia, Nyi Ratna Suwarni lahir di bumi selatan? Nama puri itulah mengusiknya untuk berani menerobos lansung ke dalam ! Di kiri kanan gerbang , rimbun dengan bunga-bunga kemboja kuning dan merah jambu. Bau yang menyengat tetapi membawa makna agung dan pasrah .

Dia telah menaiki anak tangga pertama. Tembok yang memisah bahagian luar membuatkan puri itu diam sediamnya seakan tiada siapa di dalamnya. Tetapi setelah melangkah ke dalam, muncul cahaya dan sekelompok anak-anakj muda berkumpul . Terdengar tiupan seruling . Pasti ada latihan ataupun persembahan tarian di situ. Dia menebak sendiri atau lebih tepat dengan dengan penuh harap. selangkah memasuki bahagian dalam puri kelihatan rimbun seroja di permukaan kolam di pinggir kanan jalan masuk. Sebelum memasuki ruang balai besar, dia harus ke balai besar, untuk turut bergabung di celah-celah pemain gemelan . Mereka mengerumuni seorang lelaki tua, mungkin dia ketua banjar, mungkin ketua adat di puri . Di sisian kolam ada beberpa jejeran meru bertingkat. Kelihatan sebakul sajen masih baru dan kalau dia rajin bertanyakan sesuatu kepada peletak sajen senja.

" Hei, kau, kukira kau tidak akan datang menemuiku di sini !"

" Telinganyakah yang mencipta mimpi. Atau matanya merekacipta bayangan maut, bila tiba-tiba yang muncul di depannya adalah dia. Dia yang mengusik sejak dihari pertama adalah dia. Dia yang mengusik sejak di hari pertma dulu.

" Kau?"

" Sejak hari itu , aku menunggu , kalau kaui sudi mampir ke pondokku "

Ya Tuhan, tiba-tiba dia menampar telinganya. Bukankah si penari itu, Nyai Ratna Suwarni telah memberi tahu di mana rumahnya.

Puri Kencana. Puri Kencana!

" Hah, kau temui Kancanabhuri !"

" Ha?"

" Ayuh, masuklah ke dalamn. Di sana semuanya saudara- maraku , kami ada pesta s'lametan nanti malam "

Dalam perjalanan akhir, tidak ingin dia memikirkan detik selanjutnya. Telah ditemuinya Nyi Ratna Suwarni. Apa pula alasannya untuk menemui penari itu. Perlukah dia mengadakan nama puri itu lebih memanggilnya untuk mampir atau oleh semangat dalaman diri yang menyahut panggilan bati Nyti Ratna Suwarni sendiri? Cuma beberapa waktu berlansung, suaranya lepas tanpa diatur,

" Aku perlukan alamatmu yang tepat, muat mengirimi foto-fotomu ketika menari tempoh hari!"

" Terima kasih ". Tetapi dalam benak penari itu, ah, itu hanya baca-basi tamu asing. Pesan ibunya mengembang setiap kali dia diajak bicara atau bercanda terutama dengan para jurufoto atau wartawan, apalagi kalau yang berwajah putih cerah. Dan Inau Suvharna yang menggenggam erat jemarinya di hari perasmian setelah dia mengalungkan kemboja bukankah berwajah putih kemerah-merahan. Sekilas, hatinya berdetak juga dengan senyum dan suara mantap lelaki itu. Tetapi syukur sebagai penari dia bebas melempiaskan naluri asli berdasarkan gerak-gerak , seolah dia hanya membawa watak Galuh atau Panji dalam tarian Arjuna.


Inau Suvharna. Inau Suvharna. Nama itu telah dipindahkankanya ke pengethuan ibunya di puri. Ibu agak gugup dengan nama yang baru didengarnya. Tamu dari Muangthai? Itu soalan ibu selanjutnya. Dia hanya mengangguk. Tidak pula melanjutkan cerita, walaupun ibu bagai ingin mengetahui lagi tetapi nyatanya ibu seakan mengelak dan berakhir ke bicara lain. Mengingatkan upacara s'lametan bulan penuh. Tetapi jauh di sukma Nyi Sukasih, ada gelora lain yang menyentak. Oh ! Tuhan pasti kau tidak membawa deritaku lagi. Phra Ram telah jauh. Lelaki itu telah pergi. Jangan kau bawa mimpi hitam itu lagi. Nyi Ratna Suwarni harus bersih. Telah beberapa kali dibisiknya kepada puteri tunggalnya itu, ingatan dunia plastik. Pulau Dewata kini telah berwajah luka. Dewa-dewa telah murka. Mereka datang hanya memainkan doa . Tuhan telah jauh di hati mereka.

Saturday, 9 July 2011

Koleksi Cerpen buat Deknong -1

PURI KENCANA




PETANG itu mereka mula meredah batu-batu cadas. Percakapan ditandai dengan keramahan bibir masing-masing, tentu saja oleh pertembungan fikir yang hampir sealur. Angin menolak dari belakang, ini amat disadarinya - sebab hampir seluruh rambutnya jatuh ke depan, baju pendeknya berombak dan hampir tersingkap ke paras pinggang. Terasa lapang dan sejuk . Dia menarik nafas dan kemudian melepaskannya, lega. Bertepatan dengan tiupan angin dia juga merakam lepasan nafas yang panjang dari teman sebelahnya. Batu- batu cadas bercerancang. Melihat warnanya yang penuh lumut, dia dapat mengagak usia longgokan batu-batu itu, lapisan dari endapan tanah dan pasir yang sekian lama menimbulknan kesan kesat bagai batu karang laut - cuma warnanya lebih hitam dan sejuk oleh lumut. Kelihatan juga tompok-tompok rumput kering. Sesekali terdengar gemersik pasir berlaga dengan helaian rumput serta derap sepatu mereka. Ah! Ini dia Inau yang bakal memulakan langkah sukma. Dia menatap teman sebelahnya. Satu profil yang teduh dan bersahaja. Langkahnya sesekali tersendat , berlaga dengan tompokan batu-batu di jalan mengelak runcingan daun lalang.








Di langit timur telah mencelah tompokan jingga berselang-seli dengan awan kelabu. Tetapi warna jingga dan merah jambu lebih cepat menambah meriah senja menjelang malam. Kelihatan bagai kanvas impresionistik. Tak tahu kenapa, tiap kali terbentur dengan pandangan langit senja berlatarkan lapisan bukit dan gunung, terhirup pula bau pasir ditambah dengan desir kelicap petang dia kembali dibentur dengan pandangan kerja-kerja masa lalu . Dulu, mungkin lima atau lapan tahun selepas meninggalkan kuliah akhir dia telah ditempatkan di kawasan-kawasan purba, kerja mencari gali yang tidak pernah selesai. Sambil membelek nota-nota, lakaran dalam usia muda, rasanya kerja-kerja berkelompok begitu memang tidak melelahkan. Tidak sekali membosankan. Usik teman-teman sekerja, mencari gali di tapak-tapak bekas zaman silam, kagumnya kepada beberapa orang profesor tua yang tidak bosan- bosan bekerja penuh disiplin meninbulkan semangat gigihnya juga. Terkembang pula daya kebanggaan tentang keagungan sejarah bangsa dan salasilah nenek moyang. Kebanggaaan bangsa dengan kesedaran cintakan tanah air. Kesedaran pertama telah dicatatnya sejak awal sekolah menengah . Seorang guru sejarah kebudayaan menekan semangat itu, ' ...tanpa sisa-sia tinggalan masa lalu, kita bagai bangsa yang kosong, tidak beradab, apa lagi bertamaddun ...!'






Tidak silaplah dia apabila memilih kursus arkeologi. Mula mengunmpul nota-nota sejarah, membongkar serpihan-serpihan artifek, tidur di gua-gua, di pinggir dusun, mengukur, mengukur tapak bekas candi, memanjat cekah-celah gunung . Diapun mengukur membanding rekabentuk Chedi di Lembah Mekong, tapak candi di Lembah Bujang malah dihafalnya jumlah motif kepala Budha di Borobudur aau Ganesya di Prambanan. Itulah kerja nenek moyangku. Nenek moyangmu, teman di sebelahnya juga. Sudah tentu.





Justeru kerja-kerja begitu juga , menjadikan dia lebih suka merenung. Menjadi diam dan terus mencatat. tidak saja di nota, tetapi lebih lagi di otak dan benak fikiran. Ditatapnya ukiran-ukiran tembikar sisa0sia di kaasan Ban Chiang. Garis-garis geometrik berbentuk burung cenderawasih di serpihan loceng gangsa Dong-son kemudian ditemukan juga lakaran yang hanpir sama di Sungai Lang, malah terbentur dengan kepercayaan desa Batu Bulan. Metos Pulau Dewata yang baru dijengahnya, memang perlu dicatat. Dan bukankah teman di sebelahnya telah menyanpaikan mitos bulan yang jatuh di desa itu? Berdetaklah irama keroncong jauh di kolam seninya. Timbul pula tanda tanya siapa lagi kalau bukan merekalah seniman silam yang mengatukan darah persaudaraan, tak terbatas oleh peta politik dan iri. Diapun membayangkan Syihman, Raja Besar Funan itu? Atau mungkin inikah sisa tinggalan keramat sejarah! Tepat dia mendengar dentingan loceng bergema di udara. Gema yang bertingkah antara celah-celah lapisan bukit di persekitaran. Dia menghentikan langkah. Juga teman di sebelahnya, memutar badan dan kembali menghadap bukit yang telah mereka tinggalkan jauh di belakang.






Kelihatan tompokan putih, pakaian para pendeta bukit. Mengingat kesedaran langkah dan hari, dia mengalih pandang ke arah teman di sebelah. Teman itu juga menoleh ke arahnya. Senyuman saling bertukar sapa. Muka mereka kini ditampar angin. Rambut mereka terburai ke belakang. Wajah temannya kini bersih, kelihatan bundar pipih. Bola mata yang hitam bulat disembunyikan oleh lapis yang menyepetkan sedikit alur di hujung mata. Dengan rambut yang berkeriting bagai mayang mengurai itu dia melihat wajah yang dapat ditebak asal keturunannya.




" Kukira, kau juga berasal dari Funan? " Dia sendiri terkejut mendengar suaranya yang tiba-tiba meloncat dengan tebakan rambang.




" Funan? Huh mentang-mentang kau ahli kaji purba, apa kau temui serpihan kulitku seperti serpihan tembikar kajianmu?"




Memang tepat. Teman yang diajak bicara itu begitu cepat menebak otaknya. Bagai ada aliran eletrik dia tersentak dan ingin membetulkan ucapan sebentarnya itu. Tetapi apakah kata-kata atau ucapan yang tepat? Kecuali agak sedikit mereda apabila dia menangkap suara temannya mencelah.




" Tak kiralah . Sama ada Funan, Yunan atan Yunani, tapi kita punyai sejarah dan budaya awal bukan? Hem, puas dengan kerja-kerja kau sebagai ahli kaji purba!"




" Ah, itu kerja masa lalu ketika praktik selepan mengakhiri kuliah dan setelah berbakti sehagai guru lepasan ijazah!"




" Mungkin bisa juga kau ulangi lagi praktikmu yang lalu, dengan model batu-batu cadas di sini! Ha kau tebak saja, berapakah usia longgokan batu-batu berlumut ini, atau nun, berapakah tinggi sisa gunung berapi sana?"






Lentingan loceng di tangan pendeta di kaki bukit itu masih berkerining. Kelompok petani berderet menjunjung bekas sajen menuju ke arah pura. Selintas cepat dia teringatkan petang itu kira-kira pertengahan bulan kalau mengikut tahun Ashoka. Apakah Ashoka juga telah melebarkan sayapnya ke Pulau Selatan, ah, sudah pasti. Cepat akal nakalnya mengusik teman setelah dengan pertanyaan,
" Kau tak ikut upacara sembahyang pertengahan bulan?"
" Kau tahu upacara petang Rabu?"
" Bila pula moyangku berkahwin dengan moyangmu?"


Soalan temannya itu sungguh mengejutkan. Tetapi selebihnya dia terbahak. Teman itu juga terbahak sama . Tetapi suaranya lunak dan melampai. Seperti juga cindai di pinggangnya ketika dia mengepak dalam langkah Dewi Candra di kolam air panas. Inikah Panji yang menyamar wajau Inau. Atau akukah Inau yang kehilangan Galuh, Huh! Gamelan bagai meraung-raung dengan tingkah penari yang bergerak dan meloncat tetapi kesan lincah itu tidak pula meninggalkan kesan gaduh dan bising. Ketukan saron bertepatan dengan kerincing juga tabuhan gendang diikuti dengan dengan panahan mata sang penari. Siapa lagi kalau bukan dia yang mengkalungkan untaian kemboja selepas upacara pelancuran!


" Inau Suvharna!" Dia menghulur tangannya gagah dan hormat. Dibukanya cuping supaya nama yang bakal didengarnya tidak disalah ucap.


" Nyi RatnaSuwarni , dari jurusna penata tari juga kuliah di ABA "
"ABA?"


" Akademi Bahasa Asing, jurusan bahasa Inggeris dan Sanskrit"


" Oh! Patutlah bahasa Inggerismu cantik !"


" Tidak, ah, biasa saja , kebetulan bakat praktik !"


" Praktik?"


" Hem, sebagai part time guide , sekadar untuk tambah wang kuliah "




Itu pertemuan di hari pertama sempena rombongan para Menteri Asia di Pulau Dewata. Hari kedua, hari ketiga dia tidak melihat kelibat Nyi Ratna Suwarni. Wajah dengan tiga untai nama yang dijejerkan manis. Dua untaian terakhir - Ratna dan Suwarni cepat ditangkap maknanya. Dengan rasa bangga yang tersendiri, dia bagai menakluk kedua-dua nama itu. Yang terakhir dia menemukan namanya di situ, hanya berbeza ejaan, mungkin membawa makna yang sama. Wah! Kebetulan atau ada misterinya? Tidak kira Ratna atau di tanahairnya disebut Rattana bukankah sesuai pula dengan kemilau wajah penari yang ramah. Memikir nama saja, telah turut mengembang naluri kelakiannya. Dadanya tiba-tiba bergemuruh. Dia ingin cepat bertemu dengan penari itu. Tetapi di mana? Apakah perlu dia menjadi Phra Ram untuk menakluk Nada Sida jauh di Pulau Selatan yang didatanginya.


***


TUGASNYA hampir selesai. Persidangan menteri-menteri Asia tepat seperti dalam jadual. Upacara liputan tv, menemuramah telah diselesaikan dengan selesa. Kerja-kerja terjemahan tidak banyak mengganggu keinginannya yang terdesak. Menteri telah memulakan lawatan ke kawasan pelancongan. Dia sendiri menyisih dan ingin bersendirian. Atau lebih tepat, mana Nyi Ratna Suwarni? Dia menjabat tangan menteri tetapi di matanya tumbuh senyuman Nyi Ratna Suwarni. Dia melepaskan salaman menteri cepat-cepat, apabila sedar di depannya ialah tokoh wiran bukan dewi. Menteri juga tidak perlu pengiring buat ucapan terjemahan. Menteri cuma perlukan terjemahan untuk acara rasmi. Untuk dialong informal, menteri fasih berbahasa antarabanga. Cuma kebanggaan kepada budaya kebangsaan, baik melalui bahasa atau pakaian , mereka digalakkan berwajah pribadi negara.


Kini tugas untuk peribadi negara telah usai. Tugas pribadi diri lebih mengusik. Pintu mana harus diketuk? Dia tidak mahu menjadi Phra Ram kehilangan Nang Sida di Pulau Selatan ini!.



" Anda fasih berbahasa Nusantara?". Itulah teguran setelah Nyi Ratna Suwarni mengkalung kemboja di lehernya. Dia menatap mata sang penari. Bersinar dan mantap. Orangnya tidaklah berapa cantik mungkin kerana dia membandingkan kulit penari itu. Putih melepak di muka hingga ke tengkuk dan leher. Tetapi makin mengelap di celah bahu hingga ke lengan. Atau kenapa harus membandingkan warna kulit? Mungkin kerana dia sendiri seorang lelaki yang dilahirkan di tanah Ligor, berdarah campuran dari keturuan Tanah Besar China bergabung pula dengan titisan darah moyang dari benua Barat, menjadikan wajah cerah cepat kemerahan dalam sinar mentari sedang memuncak. Tetapi ada gerak lain menjadikan dia tiba-tiba terpukau.Ada satu kesan yang membuatkan dia begitu dekat dengan Nyi Ratna Suwarni. Mungkin bahagia mata atau mungkin senyum yang muncul di balik bibir yang tipis. Apakah kerana jelingan tajam memancar dari langkah gerat tari Arjuna? Wajah yang memanah terus ke jantung! Di situlah ada riak yang meronta dari dalam. Nah ! Akulah juga Arjuna yang menunggu leluhur dijelmakan semula jauh di puncak Semeru!