Monday, 26 December 2011

CAHAYAMU (NH 1432/1433)

@SZI Masjidil Haram Nov 2011

Bismillahirrahmanirrahim,
" Allah mempunyai cahaya langit dan bumi. Perumpamaan  cahaya Allah (Agama Islam)  itu sebagai sebuah lubang, yang di dalam pelita. Pelita itu di dalam kaca. Kaca itu bagai bintang yang berkilauan...cahaya berlapis cahaya . Allah memimpin siapa yang disukaiNya menerima cahaya membuat beberapa perumpamaan untuk manusia dan Allah itu Maha mengetahui segala sesuatu " (Surah 24, An Nur: 35)
"(Cahaya itu) di dalam rumah (masjid) yang di situ Allah itu  mengizinkan supaya dimuliakan dan disebutNya, tempat tasbih memuji Allah pagi dan senja " (:36)

BUKANKAH  Cahaya ini yang memanggilmu ya insan kecil . Kaupun melangkah setelah ucapan  'Dengan Nama Allah Yang Pemurah lagi Maha Penyayang'. Kau tinggalkan sandal dalam kantung plastik, di celah tiang pintu no 88, kadang masuk dari pintu King Aziz, Al Fadh, menuju ruang perempuan. Kadang lansung ke tangga tingkat dua atau lurus menuju ke aras paling atas, terbuka menengadah ke langitMu. Ya Rabb. 
Dan subuh ini, di sebelah tiang agam perkasa, aku selepas menghampar sejadah, melepaskan sujud akhir solat sunat masjid, sunat subuh...menunggu azan pertama, ku tengadah ke atas. MasyaAlalh cahaya yang tergantung dalam kaca menyerbak kilauan berganda. Sejak dulu minyak kayu dan minyak zaitun memberi nyala api, menyimbah dari tutup cerobong kaca pelita..kini kau tergantug, agam bertahtah di bawa jejeran kubah berlapis...Cahaya demi cahaya, kami menginsafi tiada Cahaya lain selain Cahaya Mu Ya Syarif. Izinkan aku bersama insanMu yang lain, seperti juga yang berada di langit , di bumi, di lautan semua hamba CiptaanMu,  " burung-burung  yang mengembangkan sayapnya masing- masing  mengetahui (cara) berdoa dan memuji. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan" (: 41)

Cahaya dari LampuMU berkilauan tanpa menyakitkan. Cahaya itu berbinar menumpah kebenaran dan kemudahan ketika kami melangkah ke dalam, ke  luar   RumahMu setiap jiwa tergetar dan tidak lagi berahsia menerbit air mata. Mereka berebut menuju Pintu, memilih  ruang tepat ke arahMu, Ya Kaabah Yang Satu.Setelah gelap malam Kau sinari bintang dan bulan, Kau cerahi dengan Bintang Kebesaran Matahari, manusia, haiwan unggas bertaburan mencari rezeki. Rezeki  Halal pemberian Mu. Ya dalam CahayaMu, jadikanlah kami yang berada dalam RumahMu mereka yang beriman kepadaMu kepada Rasul pilihanMu dan Dikaulah tempat kami Meminta segala Cinta AgungMu tanpa berbelah bagi. Di bawah cahaya Keimananan ini, bercerangcanglah doa taubat tidak kunjung selesai sehingga matahari Dhuha pun melambai ..Allahuakbar

(Mengenang Subuh Masjidil Haram
Nov-Dis 2011)

Thursday, 22 December 2011

Pintu RumahMu (NH 1432/1433)

@SZI 2011
(28 Oktober 2011)

ALHAMDULILLAH Pintu Rumah Mu terbuka selalu. Aku datang lagi kerana Seruan itu tiba. Betapa banyak pintu, pintu ini juga kami tuju. Tiba musimnya (Haji) seluruh umat dunia datang bagai angin  menderu . " Timur dan Barat  kepunyaanMu Ya Allah, kemana saja kau menghadapkan mukamu di situlah wajah Allah (qiblat) sesungguhnya Allah itu Pemberi kurnia yan cukup dan Maha Tahu " (Surah 2, Al Baqarah: 115). Menara perkasa azan melantun dan kami tergesa ke pintuMu Yang Satu!  

Tidak sekali kupalsukan Rindu mencariMu, tidak menghindari Pintu di bawah langit dan di bumi indah Milik dan CiptaanMu. Apakah ertinya perjalanan ini, kalau bukan oleh restuMu, oleh sejuta keajaiban yang tidak mampu dijawab oleh akal sehat kecuali batin yang redha, Kaulah Yang memberi nikmat kami. Aku antara berjuta HambaMu dengan rendah hati  mendengar ' berita gembira' menjejak tapak Ibrahim  mengeliling Rumah Tua Sejak Muhamad menjadikan Rumah Tercinta ini sebagai perawat nurani   -  'thawwaf  berkeliling Rumah Suci - bersihkan hati kami. Di pintuMu aku melangkah, Ya Rabb, terimalah rindu entah untuk berapa kali tidak henti, aku  hanya sezarah debu hitam kelabu...terimalah...Bismillahirahmanirahim..

Monday, 24 October 2011

Detik Itu Pun Tiba

Sahabatku : Tiba waktu, kapalpun  membawa diri  seperti buraq dinihari - daku membawa helaian sayap amat tipis berlarik luka. Hanya kesedaran Iman, harus kita jabat erti perpisahan maafkanku  terlalu banyak mencatat melakar, mana yang terhiris hati, tersangkut tanya dan terluka...maaf kupinta. Izinkan daku  melangkah, merentas dengan tenang, tersandung  perit cinta memberi hari semakin nyata. Jelas Hanya Dia Yang Amat Lembut mendengar bisikan HambaNya.Doakan kasih batini sehingga diri semakin insaf segala dosa segala keingkaran, segala tipisnya kesedaran, demi kasihku berilah titis  ilmu pengetahuan, dengan jernih mata dan hati ,  tidak Kau pesongkan hati demi HidayatMu. Berilah Petunjuk, ada Cahaya, Cahaya KasihMu , aku tahu Dikaulah Yang Memberi Kurnia. Hanya Mu Yang Memberi Kesejahteran.Terimalah senyuman kasihku kepada sahabat terkasihku, tak mungkin kulayang ucapan maaf secara utuh, hanya di sini, tali kasih antara kira, dikau sahabatku, maafkan hati kecil ini, sungguh Redha  meninggalkan seluruh hak pinjamanMu, dari hutan, laut, langit dan Awan yang Kau pinjamkan kuserahkan  kepada Yang Hak! Demi Yang Terpuji, Redhakan aku pergi...dan izin kembali menatap mentari tanah air  ini. Al Fateha, Ayah , Ibu, Nenda, para guru dan   kedua anankanda ,   saudara mara dan sahabattku, kutabur doa kasih ampunilah Kami ya   Amin Ya Rabillalamin...

Menjelang 27 Okt 2011
KT 80. 

Saturday, 8 October 2011

Sekolam kiambang

Terima kasih Isnadi menebar benih kiambang ini - Laman Nyang Galoh Okt 2011
Benarlah kehidupan hari ini adalah sisa masa lalu. Ketika merenung sisa kolam ini, yang kerap ditinggalkan oleh si  penghuni taman, kadang kering di musim panas tanpa hujan, kembali menghijau berkelopak kiambang ketika hujan berderaian. Lumut pun berkilauan.  Apakah yang akan kau catat sahabatku?  'Biduk lalu kiambang bertaut' - betapa arifnya nenek moyang  mencipta larik puisi klasik ini. Larik dari batin indah terluah bersahaja, sehingga kerap pula di dendang selokakan.

Ketika akan pergi meninggalkan taman ini, lebih sebulan nanti siapakah yang sudi mengintai kolam ini? Yang akan mengocakkan permukaannya sehingga berudu bersilat ekor sebelum memamahnya sendiri untuk menukar wajahnya yang lebih asli? 

Siapakah yang datang menyiram keladi, pelepah rimbun sepit udang dan menghidupkan unggun api menghalau  nyamuk ? Adakah kelak  sahabatku si  Tiga Pendekar datang menjenguk???

Menuggu detik keberangkatan. 
Gombak
9 Okt 2011, 00:24   

Thursday, 6 October 2011

Jaga dirimu Jingga

                                                                    
Jaga dirimu Jingga
Ketika kau
segak perkasa
menjaga Adik manja
tak kau beri
Si Belang datang
menghampiri.

Petaka tiba
kau bersayu hati
diam di sarang
tanpa suara
jemarimu adalah
saksi
dunia berhenti
seketika
kau renung
kembalikan
kau seperti biasa
berlari meriuh siling
ikhsan
menjaga pagi
sebelum malam
memberimu
bisikan
jangan bersedih
sahabat kita
Jingga !

6 Oktober 2011 

Friday, 30 September 2011

7. 150 Tahun Kampung Kami

1.

150 tahun usia kampung kami?

Kau terkejut? Tidak percaya, lebih tua usianya dari kota raya - ibu negara? Ha?  Kenapa mendelik. Kota raya bersimbah cahaya. Aku tafakur sendiri di bawah tiang lampu, Pasar Budaya- bekas Pasar Besar di ibu kota sedang nongkrong bersimpun  di galeri Ghani Ahmad, dikeliling siswi UPSI. Inilah contoh galeri  yang  sudah dipindahkan di kawasan luar Pasar Seni. Pelukis makin terpinggir di ruang Pasar Seni yang semakin hebat .  Kadang disebut Pasar Budaya yang tidak mampu menyewa galeri mewah di mall di pusat hebat kerana menjual anika barang seni bukan lagi  100 peratus milik tempatan. Mana Pasar Seni yang digahkan 35 tahun lalu. Bila ruang melukis di Jalan Melayu, di Jalan Bonos, di Jalan Ampang, malah yang di anjur Kementerian Kebudayaan, di Jalan Belandapun sudah dilupuskan. Suara mentgeri suara Datuk Bandar bergema " Kita akan bangunkan Pasar Seni akan menempatkan studio pelukis... " tetapi selepas 20 tahun...ruang pelukis semakin kecil, malah  sewa semakin meningkat. Peraturan yang sengaja melecehkan ' pelukis pinggiran'. Itulah istilah si lintah darat pengusaha kota raya, mereka golongan pedagang mewah. Terakhir Aris Aziz juga harus keluar. Kembali menjadi pelukis berpindah randah...ya Rabbi. Pernah Balai Seni Lukis Negara mengadakan acara hujung minggu, pasar seni di halamannya. tiba-tiba diberhentikan. Diadakan pula Lebuh Seni di dataran Merdeka.  Berbondong seni di hujung minggu. Taraf seni rakyat bagai pesta arak berarak , masuk kandang keluar kandang. Mana Pasar Seni yang utuh sebenarnya. Tanpa pelukis mengheret papan lukis ke hulu ke hilir. Ayuh bangun semula Pasar Besar Gombak menjadi Pasar Seni!!!

 
Kudengar debat dua orang anak muda, bila kubercerita tentang asal usul wilayah  Gombak yang meliputi Kg Puah di Batu 3  3/4 hingga ke Batu 12. Dan  kampung kami  di Batu 4 1/4 Jalan Gombak bersungguh mempertahan kampung halamananya setelah DBKL mula mengatur dan menjalurkan kampung-kampung di pinggir kota untuk dibangun pada tahun 2020. Sepuluh tahun lagi, sembilan tahun lagi. Akukah si penutur tentang asal usul kampung yang bermula dengan peristiwa Raja Rasul singgah  di Labuhan Batu, batu hampar yang menjulur di dua lidah bercabang , Sungai Gombak dan Sungai Ampang bersatu dengan Sungai Kelang. di situlah kemudiannya muncul Masjid Jamik, bersebelahan pinggiran Pasar Seni sekarang. di Labuhan Batu inilah rombongan dari Labuhan Dagang- Kelang, menghulu membuka kampung di Ulu Sungai Ampang dan di Ulu Sungai Batu, Sungai Ulu Gombak. Jangan tanya Yap Ah loy rombongan mereka belum sampai lagi. Catatan sejarah harus diluruskan,  siapa yang membuka kota Kuala Lumpur. Kota yang penuh lumpur datang dari hulu sisa banjir dari  tiga batang  sungai utama,Sungai Gombak, Sungai  Ampang dan Sungai Batu. Kau tahu di mana letaknya Kampung Batu, Bukit Batu  sebelum munculnya  Batu Road? Gua Batu yang kau sebut Batu Gave?  Ikut mitos datuk saudara kami A.Samad Ahmad, mengatakan,  itulah sisa jelmaan Nakhoda Tanggang yang  menderhaka dan kapalnya menjadi batu setelah disumpah oleh ibunda masa lalu. 

****
2...bersambung. 

Thursday, 29 September 2011

KUTIPAN UNTUK KULIT BUKU BHG. BELAKANG

Latfy dan kawan-kawan, grafik:
bahagian belakang buku Rumah Waris Uwan ...

' Kampung asal berpaya ini kini disebut Kampung Bandar Dalam bersebelahan dengan Kampung Padang Balang. Perkataan Bandar berasal dari dialek Minang- Negeri Sembilan, Bonda atau Banda bererti tali air. Iaitu oleh peristiwa banjir besar 1928 di Sungai Gombak, penuhlah tali air menjadi 'banda yang dalam' maka bernamalah kampung ini Kampung  Bandar Dalam.  Inilah Bonda  ibu tanah air yang perlu dilindungi,dikasihi  khususnya buat warga Kampung Bandar Dalam serta para generasi muda pewaris seni budaya Bangsa' (dalam  Kasih Bonda kampung Paya Kami, DBP, 2009)  

*****
' Important too is her oral-aural quality. Siti Zainons's works are composed for the ear, and it is when  they are spoken and heard that their  distinctive are highlighted. The oral-aural quality relates were works to traditional literature - its folkloristic traditions. especially, which view poems a stories as part of performance as an oral art, memorised and dramatised at sosial or other ocassions'
 ( SN Prof. Dr Muhammad Haji Salleh dalam Malaysian Writers Siti Zainon Ismail, DBP, 1989). 

*****
 '...Siti  Zainon berguru mengikut tatacara konsep belajar dengan masyarakat Melayu di zaman dahulu. Perguruannya membawa dirinya menjelajah , berkelana, mengembara menyelidik khazanah  purba pusaka zaman silam. Dari desa kecil di tempat terpencil, dari tanah besar ke pulau-pulau Nusantara, dari negeri ke negara sehingga ke kota-kota besar dan kecil di Asia Tenggara, Eropah di mana sahaja ada jejak-jejak silam  seni seniman Melayu ..sekarang Siti kembali menjejak kampung kelahirannya, Gombak ' 
( Prof. Madya Dr Mahzan Musa dalam  Zikir Pelangi, The Rainbow Siti Zainon Ismail, 2000 : 19) 

KBD, 30 Sept 2011