Sunday, 28 February 2010

Catatan yang hilang

Jangan kau cari di halaman kosong
garis inti rahsia hari
pergi dan tidak kembali
jangan kau bohongi hatimu
pesan siang yang panas
malam meriang
jangan kau cuba mengingati
lakaran pesan
kecuali
huruf-huruf yang kau hafal
dari halaman pertama
ke halaman akhir
kelak kan kau dengar
pesan dan doa
ketika para pentasbih
menyeru namamu
nama ibu yang melahirkan
ketika jasad panas makin mendingin
haba mengiringi roh
timbang terima
sudah tiba
jangan kau tangisi
jalan kau kesali
halaman kosong hanya tanda
setelah kau padam
coretan nafsu nasfi
oh MurkaMu
dahsyat sekali!


Biarku pergi
memadam semua
hitam
dendam
hanya SuaraMu
tidakkan terpadam!


*****

Rumah Kasih Bonda
Bandar Bangi Bangi

Friday, 26 February 2010

Salawat pagi bening


Hari-hari terucap
oleh tanda dan sejarah
jangan kau cemburui haruman tumbuh di taman
suara di balik batu-batu kesat
laungan dan seruan
kami mencari tapakmu
di bawah sinar yang satu
hari ini
adalah persiapan diri
menakluki janji yang satu
suara panggilan semakin dekat
di situkah pertemuan abadi
menggenggam luka masa lalu
musuh dan penipuan demi kebanggaan
Allahuakbar !
Demikian saf lurus
hanya panggilan kasih
di hari bercahaya
kelahiranmu
Ya Al Amin
gerah gelita pergilah
kami
raih Cinta
sebuah janji
di Surah Mu!
*****
Hari Putih Mauludurrasul
1431

Suara Kemanusiaan - Florence @ Firenze

Arca " Suara Kemanusiaan" di halaman
Parlimen Firenze @ SZI 2000
Mac 2000
Gerimis berderaian. Wap pagi mengepul pecah ke udara. Kau tiba di halaman parlimen kota tua, tenang hari Minggu, pagar tidak berkunci. Anak-anak berlarian mengejar merpati. Dia tercegat di depan pancuran. Gerimis dari langit, percikan air di kolam, dan sejumlah kelompok manusia berloncatan saling bergandingan tangan. Inilah negara kemanusiaan, menyambut suara yang bercakaran di rumah politik. Anak-anak berlompat dia tersedar, tertanya, bilakah seniman negara mencipta hingga seni arca tumbuh di halaman parlimen kita?
******
Bukit Kanching
26022010

Monday, 22 February 2010

SATE HIDANGAN SEGERA??

ANDA harus beratur, pesan dan bayar. Gaya makanan cara Barat mula menjalar untuk menikmat juadah sate. Mula-mula memang tersentak, seperti anakanda Mawar, saya juga
sedikit aneh. Tetapi teman semeja memujuk, " Ini mungkin gara-gara ada pelanggan, selepas menikmati juadah sate terus berlalu tanpa bayar." OOop , gara-gara restorannya penuh selalu...ya mungkin begitu agaknya.

Begitu juga pelayannya bukan lagi warga Melayu seperti biasa sudah berwajah India-Bangla di samping bernada loghat Indonesia. Kenangan menikmati Sate Majid yang popular di tahun 1960-1970 di Jalan Ipoh, di Cambell Street cuma tinggal kenangan. Cara mengipas dan haruman bau sate semerbak harum juga semakin hilang.

Mana mungkin kami melupakan sate Kajang, setiap hari Raya Idilfitri kami menaiki bas menuju ka Batu 14, bermalam di rumah kak Hasnah, hanya untuk menikmati sate di pekan Kajang yang popular sejak tahun 1920an . Para sahabatku sate sudah menjadi MAKANAN RAKYAT UMUM . Janganlah saling mengklim ini milik peribadi atau negara tertentu.

Sayang juga, menu sate daging lembu, ayam atau campuran berkuah kacang, cuma kini ditambah dengan nasi yang dipadatkan dalam plastik. Ketupat sate makin lenyap. Begitu juga diet sate yang berulam bawang juga diketepikan hanya tinggal ulasan timun saja.
*****
Rumah Kasih Bonda
23022010

Saturday, 20 February 2010

Pohon Ilmu

1.
Biar tubuh menunggal, ranting kering
daunan berguguran
burungpun tak berhenti lelah di dahan
biji tak sempat disemai
angin deras
terus memukul tubuh
bergoyang
tapi kau tetap bertahan.
Guru kami di ASRI 1970
sahabatku
di mana terakhir kau
menjelang gurumu?
2.
Ya
kami menangkap suaramu
guru pemberi Cinta ilmu
bertahan dalam angin rusuh
menyelak buku
pustaka yang senyap
ketika kami melompat tiba-tiba
ada yang berlari ke jeti
menunggu sauh di angkat
menanti layar terkembang
ilmu tidak terkejar
kami berlumba mengutip pesan
kami akan pergi dan pulang
seperti yang dijanji
dengan pekat awan uji
dengan ghairah
pedati dipacu
menyambumu
meraih ilmu!


3.
Suara pun berdegar
nama dibina dengan bangga
kau bertengkar di meja parlimen
mengira untung rugi niaga
di mesyuarat korporat
rahsia negara bocor juga
harta disulap para bijaksana
siapakah yang membisikkan kesabaran
hilanglah nyanyian di rumah cinta
anak dan isteri suram kasih sayang
mabuk serakah tak henti
darah melimpah di rumah di jalanan
luka kebun sejarah
di manakah ilmu fikir kau himpun
wasiat guru menjadi sunyi
janji setia hilang
tumpukan harta dan nafsu menggila
gagalkah guru ayah ibu mendidikmu
kuasa palsu suara bisu
ke mana kau mengadu?
****
Gombak
21022010

Friday, 19 February 2010

Kerja tukang ini





Dengan Ungkapan Pertama

ia kesabaran kayu

berjengkal diukur

digenggam memastikan jarak

mengetam menghalus lidah papan

si pandai kayu

mendiri tiang seri

palang alang mengatur atap

perabung separuh lentik di hujung

dengan senturah sayap rerama

angin menyidai pesan

tegak saga kukuh melindung

Wednesday, 17 February 2010

Sepetang di rumah Mahaguru

Sasterawan Negara Prof. Dr Muhammad
Haji Salleh dan SEA Write Awardee Datok Baha
Keluarga Mahaguru, sahabat dan muridnya!

Prof Dr Muhammad, pemimbing saja sejak menyelesaikan kuliah SS dan Phd. di UKM dan UM, bersungguh meminta saya datang ke rumahnya di Ulu Kajang. Pesannya " Ada berita baik dari Bali, Siti datang petang Ahad ya, kita bincang acara seni lukis- puisi untuk hujung tahun ? "

Saya tersesat barat untuk mencari rumah di hujung Ulu Kajang. Semua kebun getah jalan ke Semenyeh dan Ulu Kajang sudah hilang, berganti tumpukan dan jejeran rumah, pusat perniagaan dan bukit mula ditanam rapi untuk padang golf permaian orang berwang. Hampir satu jam perjalanan dari Gombak termasuk keliling ke hulu ke hilir mencari simpang dan papan tanda rumah, akhirnya diberi arahan, " Kasturi menunggu di depan pondok pengawal ". Ya saya dengan Zulela tiba di rumah berbumbung perabung bertunjuk langit. Di meja makan sudah menunggu Datok Baha dan isteri serta YM Raja Aminullah dan isteri.

.
Bumbung rumah bertunjuk langit
Petua ilmu menjulang ke langit
Rumah menghadap ke tasik, sisi kebun getah
di Ulu Kajang-Semenyih


Kami berbincang di anjung menghadap tasik yang tenang menjelang petang.
- " Saya baru pulang dari Bali dan menginap di studio Made Wianta...kawan sekuliahmu di ASRI . Made dengan Intan, serta Jose Rizal ingin berkunjung akhir tahun ini. ..."
- " Oh ya? "
- " Made pelukis juga mula berjinak dengan puisi....ya bolehlah penyair pelukis..."
- " Ohhhh Jose Rizal tuan punyai kedai buku di TIM ? " Datok Baha mencelah. Saya menambah,
-" Sudah lama Jose Rizal teringin untuk menggarap teater Uda dan Dara Usman Awang, saya minta beliau menghubungi langsung ke DBP tapi tidak pernah menjadi...."
Kami terdiam. Memang kelompok ini memang orang pendiam. Kemudian muncul suara Raja Ahmad,
- " Ya mungkin kita libatkan DBP, ASWARA, Balai Seni lukis Negara....kita aturkan dialong santai....."
- '"Ya kita boleh hubungi Pelukis Pahang atau Yayasan Kesenian Ipoh ? " - saya menyusul cadangan.
- " Untuk USM saya akan aturkan dengan Pusat Pengajian Sastera atau dengan Pusat Budaya"
- " Pameran lukisan juga ? " - Raja Aminullah mencelah
- " Mengikut Made, mereka hanya ingin bertemu seniman, pelajar seni, boleh memberi ceramah pengalaman mereka di arena seni.....pameran agak berat kalau kita aturkan"
Petang merangkak senja. Made Wianta memang teman seangkatan di ASRI. Beliau tidak menyelesaikan kuliah Seni lukis. Sebaliknya mendadak melompat ke Belanda. Daripada penabuh gamelan di kedutaaan, mencuci piring di restoran, mencari ruang belajar, melukis hingga membina nama di Eropah, Amerika , Itali, Vianne, juga ke Amerika Latin. Dia sendiri mengaku,
" Kita harus bergerak seperti kilat, untuk cari wang, juga cari nama..." Memang pelukis ini pintar, mengumpul pengkaji dan penulis di studionya hingga buku biografinya bertaburan diterbikan oleh Times, kajian tesis dalam dan luar negeri. Tambahnya " Jangan sok mencari estetika saja, tapi fikirkan estetika boleh dijual beli haaaa"
Jose Rizal, berpuisi dan berteater. Tetapi saya lebih tertarik dengan usahanya mengumpul menjual buku-buku lama di TIM. Malah dengan jujur berliau bersuara, " Ketika toko buku Dewan Bahasa dan Pustaka gagal dengan bisnisnya, saya dapatkan sisa-sisa buku yang bertaburan di toko yang ditinggalkan oleh petugas DBP...nah buku anda juga ada di sini."
Berhasilkah cadangan Prof Dr Muhammad dengan teman-teman terdekat,Datok Baha dan Raja Aminullah mengatur program untuk kunjungan Made dangan kumpulannya pada bulan Oktober mendatang?
****
Gombak
17022010