Tuesday, 8 June 2010

Sisa Silam di Kampung BUANGKOK SingaPura

7 Jun 2010
(Catatan buat Mei Young)
NAMA Kampung Buangkok kukutip di sebuah jurnal kembara yang dihadiahkan oleh seorang penulis dan wartawan. Pesannya, " Jangan kira SingaPura sudah lupus dengan kampung. Pergilah ke Kampung Buangkok." Wah namanya apakah tidak keliru? BANGKOK? Bukan! B U A N G K O K arah ke Woodland menghadap ke Selat Johor? Beberapa kali untuk meredah kampung ini tergendala hanya kerana berpanjang di Rumah Seni (The Arts House) atau Muzium Tamadun Asia (Asian Civilisation Museum). Kali ini aku tidak akan melepaskan kunjungan ke kampung impian sisa sejarah budaya di kota metro SingaPura.
Rumah Nenek Esah , berbumbung limas, ditata rapi,
dengan halaman berpasir, kerusi batu, buai
untuk anak cucu bermain kalau datang
di hari cuti terutama di hari raya..

Matahari bersinar dengan lembut tidak menyebak keluar awan. Suasana menjadi lebih sejuk seakan baru munculnya musim bunga. Kami bersarapan di bangunan Pasar Geylang Serai terus memilih Warong Solo (dibuka sejak 1965), memesan soto dan Melor memilih laksa Siglap dan segelas teh tarik di gerai Sang Nila. Lengkaplah pandangan sejarah diangkat oleh para peniaga, dari kelompok asal orang Jawa Solo atau kelompok waris Sang Nila Utama. Dengan teksi kami meminta dihantar ke Kampong Buangkok. Tanpa soal teksi meluncur menuju arah ke jalan Yio Ciu Kang. Dalam benak terfikir pula apakah masih tersisa kelompok Selitar? Teksi berhenti di celah lorong Gerald Drive ($S 10.00). Kiri kanan lorong sudah penuh dengan jentolak, si leher jenjang, truk dan ceracak besi sudah ditancap ke bumi. Sungai yang sudah terkepung tindihan batu....hinggga sungai melenggok tegang untuk mengalir ke arah lembah Seletar. Kami menyusur hingga ke hujung lorong hingga bertemu papan tanda bertulis tangan, kasar dan miskin rupa : Surau Lorong Kampong Buangkok!!!

Kampung terbuka tanpa pagar. Bumbung rumah limas beratap zink setengah berkarat, pagar berkunci terkiut. Tiada suara. Siapa yang kami cari? Nama pemilik tanah ini Mei Young sudah lama tercatat di benak. Konon tanah kampung ini 5 ekar milik keturunan datuk dari Emoy suku Hokian. Tapi mana Nonya Mei Young? tuan milik tanah ini. Tanpa izinnya kami menyusur ke halaman rumah yang terbuka itu, hanya dibatasi kebun kecil yang cantik rapi, tembus ke rumah Tuan Jamil (maaf ya Sahabat), tanpa izinmu kurakam, koleksi barang-barang purba, pintu berukiran dari Jawa- Bali, kerusi seakan koleksi dinasti akhir Chin, vas bunga gaya Yunani, pohon berjurai dauan segar mangga, keluk kubah jalinan sirih rimbun menghala ke kebun belakang. Terdengung juga suara radio tetapi perlahan dan kemudian senyap. Seakan penguhinya tahu ada oranng asing sedang berkeliaran di halaman kebun mereka. Dengan langkah bismillahhirrahmaniirahim dan doa kecil kulimpah lewat bibir jatuh kembali di nurani...bagaimana kebun dan tanah ini masih bersisa belum terusik oleh rakusnya pembangunan...?


Taman dan halaman rumah semakin sejuk dan damai. Akhirnya terjawab bila halaman rumah paling barat, terdengar suara kanak-kanak riuh gembira. Terdengar suara ibu sedang bernyanyi. Kami singgah dan menyapa dengan salam. Alhamdulliah salam kami bersambut, di situ Puan Sharifah Ruziah binti Ahmad (l 1968) sudi menyambut kami. Malah dengan jelas bertanya...
-" Wartawan ke...kami tidak terima kunjungan wartawan lagi, mereka menulis lain tidak seperti kami ceritakan...? "
-" Ha bukan, saya seperti puan juga, orang biasa suka meninjau tempat-tempat sejarah lama ingin tahu kehidupan budaya bangsa kita? ingin berjumpa tuan milik tanah kampung ini "
_ " oh dia Mei Young , tapi tidak suka dengan penulis yang mengabur cerita, kononnya ada laporan, kerajaan akan ambil tanah dan bayar berpuluh juta, orang-orang luar sudah berkeliaran waktu malam ke sini !"
_ " haaa ? "
Atas Kuasa Ilahi juga, setelah setengah jam ngalur ngilir dengan asal usul keluarga Puan Sharifah berayahkan Ahmad asal dari Picitan Jawa, lahir di kampung Buangkok. Dan suaminya yang berpendirian lama, tidak membenarkan anak-anak perempuan berkerja campur gaul dengan lelaki ..tiba-tiba muncul perempuan Cina dengan bahasa Melayu yang sempurna, Mei Young (l 1958)...menjelaskan,
_ " Datuk saya kawin dengan nenekku, Ngo Teng, nyonya Melaka, pakai kain batik, baju kebaya, makan cara Melayu, masak asam pedas....dan tanah ini sisa harta ayah dan ibu, hanya untuk kami hidup damai Melayu dan Cina...sejak tahun 1950an...tapi mereka nak ambil juga .....satu hari nanti...susah hati saya - di mana mereka nak pindah nanti? "

Semua penghuni tinggal warisan ayah ibu atau nenek, (Nenek Esah paling tua tinggal sendiri berusia 75 th)...sejak awal ibu Mei Young menyewakan tanahy untuk tapak rumah, $S 3.oo-7.oo sebulan. Penyewa bebas mendirikan rumah atap kayu dengan bumbung limas. Umumnya rumah ini tinggal warisan. Sekarang mereka turut membeli flat tetapi kerap pulang di hujung minggu. malah lebih meriah kalau menjelang bulan puasa dan hari raya. Inilah kampung kami. Jelas Mei Young. Sekarang dengan sewa $S 30, mereka masih damai hidup bersama. Tambah Me Young lagi,
_ " Kami hidup SATU HATI - kawan-kawan meskin , kenapa kami harus diPISAHKAN? Di luar sana Melayu , China tidakpun bersatu ? Kerajaan sudah ambil 2 ekar untuk merapikan anak sungai. ya dulu memang pernah banjir, air masuk melalui laut di seberang Punggol... di sinilah ayahku Seng Teong Kin menanam semua herba terutama sayuran, serai, kunyit, ekor kucing, bunga raya, menjual daunan kering rumput rampai dari tasik belakang sana, untuk ( tahun 1956), dijual ke kedai sensei "
Sebelum pulang kususuri ke rumah paling hujung milik Nenek Esah. Kelihatan jejeran kain di tali jemuran. Bererti rumah berpenghuni tapi kenapa sunyi? Di bawah pohon mangga yang tinggi dan berdaun rendang, tergantung buai ditolak angin. Halaman berpasir bersih, terhimbau bauan wangi dari kelopak bunga cina, jantung pisang terjujur sudah berputik, buah kelapa tua tergeletak sudah menghulur pucuk. Kalau dibiar 5 tahun lagi pasti dan menjurai mayang. Tapi masihkan sempat kelapa berbuah lagi, mangga berbunga lebat, pisang berjantung...kalau kebun lama dengan rumah limas, berdinding papan kelak akan dipugar, demi pembangunan demi keangungan kerajaan mewah dengan rezeki melimpah oleh kesan ekonomi yang membuak?


*****
Hujung Tanah
8 Jun 2010


1 comment:

Hang Nadim said...

salaam, saya amat terharu dgn gambaran kata berkenaan Kg Buangkok, mohon mendapat inspirasi dari tulisan puan T Ksh