Monday, 15 September 2008

Alfatiha buat Kak Jah

Ogos, memecah rinduku jauh-jauh mengenangmu
desir lalang keringat siang menyatu
di hujung Jalan Bayam
rumah abadimu kaku dalam sunyi
hanya getar daunan mengkudu
setia mengulai zikir
dua nisan kaku
di mana janji surat akuan
terpadamkah nama seniman negara
tanpa sebarang catatan kaligrafi
aku tersesat dalam gundah
hanya sebaris kalimah
Ya Allah limpahi rahmat Mu
abadi menemanimu di sini

Pusara di hujung Jalan Bayam
Ogos 2008

Mahaguru budaya kami


Yang berbahagia Prof Datuk Mohd Taib Osman, mahaguru pertamaku yang mengajar ilmu penyelidikan di lapangan. Teori kajian budaya memang mudah kita kutip dalam senarai terbitan karyanya yang panjang (sila rujuk terbitan DBP, UM dll).Tapi cara kajian etnografi, adat istiadat dan warisan lebih awal ku ikuti sebelum mendapat bimbingan untuk ijazah Sarjana (1976-1979) dan PhD (1985-1990). Sebagai jurulatih muda di KKBS (1974-1976), beliau adalah Ketua Penyelidikan yang memberi khidmat untuk penyelidik di KKBS. Di situlah beliau mengajakku sebagai pembantunya untuk melakar membuat sketsa sepanjang penyelidikan di Ulu Tembeling. Kebetulan yang mengenalkan ialah Prof Muhamad Haji Salleh. Di situ tugasku kadang-kadang membawa beg alat perakam , kamera sambil mengepit helaian kertas dan drawing block. Malah aku juga diminta membantu juru masak, menyediakan menu ikan kelah masak tompayak gaya Pahang - kegemarannya. Siang kami berkerja keras, merakam cerita raykat, antaranya melotah, main bubu,cerita anak kancil dari tokoh informan Pak Mat Petah. Di celah kesibukan di siang hari, malam terakhir kami dirayakan oleh penduduk Melayu dan Orang Asli, dengan acara menari di pentas jeti diraja di Kampung Bantal hulu sungai Tenbeling. Ya masa berlalu begitu saja dengan kenangan ilmu yang sukar dipadam. Aku rindu dengan kepetahannya menyaran, mengkritik hasil kajianku. Ya untuk melepas rindu, setelah kembali dari Kota Bharu mengunjungi Pusara Allahyarham Kak Jah di Jalan Bayam, Kota Bharu ku lanjuti lagi ke rumah mantan Profku di Petaling Jaya. Dia amat gembiran bersahaja, bercerita, memberi lanjutan amanat, " Bagus-bagus , Siti harus terus menulis, merakam ilmu warisan budaya...tidak banyak anak muda tertarik dengan bidang yang tidak popular ini-teruskan!" Semoga Allah memberinya kekuatan jasmani dan rohani untuk terus tersenyum menikmati hari-hari akhir seorang mahaguru pengajian Melayu, Amin'

Hobi sahabat kecilku

Sahabat kecilku ini, hobinya memang menyusun senarai menu makanan. Walau tidak suka memasak tapi pilihan menu makanannya selalu menggoda. Setiap kali memesan makanan, selalu disyaratkan, ambil gambar - baru makan. Kuih atau kek, malah jarang dijamah, hanya untuk memotret dan dia selalu lupa makanan telah menjadi mangsa tetamu lain. Laparlah selalu Cik Melor. Sayang sekali 12 September lalu, si ibu dan si adik terlupa menyediakan kek hari jadi. Maaflah, kita ganti perayaan hari lahirmu minggu depan ya? Cukup kiriman potongan kek coklat berhias ceri ni dulu. Gembira dan syukur....Allah limpahi mu dengan gembira dan bersyukurlah selalu. Amin

Ramadhan, Wanita Melayu, jeans dan kebaya

15 Ramadan, bulan penuh tergantung di langit. Suara jemaah tarawih semakin menjauh dari surau. Malam minggu daku menyusur kota setelah ingin melihat pameran di ruang mewah di menara berkembar. Tapi kerana musim Ramdhan, galeri tutup lebih awal. Waktu iftar sudah mendekat. Restoran harus ditempah dulu, semua penuh dan sendat, lalu kami terkapar di ruang terbuka, riuh dengan gaya kota. Setengah tercungap aneh melihat pandangan bulan mulia. Masih hilir mudik dengan wanita muda, separuh baya, bergaya dengan t shirt, rambut bertudung, jeans pula ada sendat, ketat, potongan punggung, seluar dalam terjuih. Eh ada juga blaus terbuka bertali spagetti...masih okeylah mungkin dia dilindungi lelaki-suami. Masuk wanita muda bergaya dengan baju kebaya berenda, melambai-lambai kebaya putih, hujung labuh hingga kepala lutut. Tapi di bawahnya dipadan dengan jeans juga. Ayu, anggunlah wajah Melayu. Tapi aku wanita ketinggalan zaman - kerana kebaya tetap terbayang gaya ibu, dan maklang, kebaya berenda HARUS BERKAIN BATIK - SARUNG ATAU BATIK LEPAS. " Eh, kunolah , itu gaya zaman dulu, haha".

" Itu 50 tahun dulu sayang - suara lelaki ku membujuk, " Mereka dalam arena globalisasi, bolehlah pakai kebaya dengan seluar sendat, tok iman tak mampupun bersuara " . Sabar-sabar.

Ya hingga detik 15 hb Ramadhan , warga kota sudah berpesta dengan buka puasa di luar rumah, berjamu selera di pasar siang, pasar malam Ramdhan - malah tv juga buat pesta Sahur Best. Bila jam tidur anak-anak kecilmu - sempatkah mereka mengucap doa berbuka dan bersahur?

Thursday, 11 September 2008

Cerita Jangan Percaya

Jangan kau percaya dan menagih imbalan
kerja yang di lakukan tak perlu balasan
seni hanya kerja membuat mereka memicing mata
kau bercerita tentang benang guwing dan cuban
mereka menimbang dengan kilo dan untungan
budaya warisan sudah terperosok
tidak memberi sumbangan !

Jangan bersedih, pujuk hati
kerana mereka memadam namamu
setelah sekian lama kau gilap cermin kabur
sebentar bercahaya sebentar mengabur lagi
yang melihat dan menilai
hanya hati yang selalu diam
tanpa suara
bicaralah dengan kediaman itu
dengan kesedaran iman.


dari ruang canselori
17.01

Wednesday, 10 September 2008

Ke Kampus lagi

Khamis, 11 September 2008

Kembali ke kampus lama, seperti menemui kekasih, abadi dan lestari
ada teman-teman lama yang hilang - sudah jauh pergi
kutatap ranting keruiang semakin tinggi
rumput kering musim garing tengahari
basah hujan mengetuk di jendela petang
Mawar, berdirikah di situ
ketawa riang di balik cermin
Ros sudah menutup pintu pejabat
mana sahabat yang satu itu
hei, aku masih di sini!

Amin Ya Rabbil Alamin
terimakasih Tuhan memberi daku waktu
untuk menuai ilmu di kampus cantik sini

ATMA
14:10

Monday, 1 September 2008

ANGIN SI PAUH JANGGI

NAMA yang kau susun
mungkin himpunan pulau, sungai, lubuk
antara jejeran gunung, bukit, menuruni lembah
kau seru angin
anginpun bergulung, menujah
menjelma naga sisik delima
geliga sakti jadi rebutan
kau renggang sayap garuda
pertempuran cinta
saksi jentayu luka
hingga tiba di tasik si pauh janggi
percik darah awan
membuih menjadi pasir mimpi
angin pun melerai
satu persatu
gugur di rumah kasihmu

(siri lukisan imbasan kenangan makyong KA dan warkah silat jawi, 26 okt 2008 > Soka Gakkai)